Di antara kekayaan kuliner Indonesia, gethuk berdiri sebagai salah satu hidangan tradisional yang tak lekang oleh waktu.

Mengenal Gethuk, Kuliner Manis Dan Legendaris Khas Jawa

​Dengan cita rasa manis legit dan tekstur kenyal yang khas, gethuk bukan hanya sekadar penganan, melainkan juga cerminan dari kearifan lokal dan sejarah panjang masyarakat Jawa.​

Berikut ini, akan menelusuri lebih dalam pesona kuliner sederhana namun legendaris ini.

tebak skor hadiah pulsabanner-free-jersey-timnas

Asal-Usul Dan Filosofi Gethuk

Gethuk merupakan makanan tradisional yang berakar kuat dalam budaya Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahan dasarnya yang berupa singkong, menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap sumber daya alam lokal. Singkong, sebagai tanaman pangan yang mudah tumbuh dan murah, menjadi penyelamat saat beras sulit didapat, terutama di masa-masa sulit.

Nama “gethuk” sendiri diyakini berasal dari proses pembuatannya yang ditumbuk atau digetok. Dalam bahasa Jawa, “gethuk” atau “getok” berarti dipukul atau ditumbuk. Proses menumbuk singkong rebus inilah yang menciptakan tekstur khas gethuk yang lembut dan pulen, sekaligus menjadi inti dari identitas kuliner ini.

Lebih dari sekadar makanan, gethuk juga memiliki filosofi tersendiri. Keberadaannya sering dikaitkan dengan kesederhanaan dan kemampuan beradaptasi. Masyarakat Jawa mengolah singkong menjadi hidangan lezat, menunjukkan kreativitas dalam memanfaatkan apa yang ada. Ini mencerminkan semangat ketahanan dan kecukupan yang dipegang teguh oleh masyarakat.

Ragam Varian Gethuk Yang Menggoda Selera

Seiring waktu, gethuk telah berevolusi menjadi berbagai varian yang menarik, menawarkan pengalaman rasa yang beragam. Salah satu yang paling dikenal adalah gethuk lindri, yang terkenal dengan warnanya yang cerah dan berlapis-lapis. Biasanya, gethuk lindri disajikan dengan parutan kelapa segar di atasnya, menambah cita rasa gurih yang sempurna.

Selain gethuk lindri, ada pula gethuk trio yang menghadirkan tiga warna berbeda, melambangkan keberagaman dan keindahan. Masing-masing warna seringkali memiliki aroma atau rasa alami dari pewarna makanan alami seperti daun pandan (hijau), gula aren (coklat), atau buah bit (merah muda). Gethuk ini sering dijumpai di pasar tradisional dan toko oleh-oleh.

Varian lain seperti gethuk goreng dari daerah seperti Magelang juga patut dicoba. Gethuk yang sudah direbus dan dihaluskan, kemudian digoreng hingga renyah di luar namun tetap lembut di dalam. Ini menunjukkan inovasi dalam mengolah gethuk, menjadikannya hidangan yang tidak monoton dan selalu menarik untuk dieksplorasi.

Baca Juga: Tanjung Benoa Bali, Destinasi Watersport Terpopuler di Pulau Dewata

Proses Pembuatan Yang Sederhana Namun Menggugah Selera

Proses Pembuatan Yang Sederhana Namun Menggugah Selera<

Pembuatan gethuk secara tradisional dimulai dengan memilih singkong berkualitas baik, yang kemudian dikupas dan direbus hingga empuk. Setelah matang, singkong ditiriskan dan ditumbuk selagi panas agar teksturnya menjadi lembut dan kalis. Proses penumbukan ini membutuhkan tenaga dan kesabaran untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

Setelah singkong halus, ditambahkan gula pasir atau gula merah sesuai selera, serta sedikit garam untuk menyeimbangkan rasa. Untuk gethuk lindri, adonan kemudian dibagi dan diberi pewarna makanan alami, lalu dicetak menggunakan alat khusus berbentuk ulir atau dipotong-potong. Proses ini menghasilkan tampilan yang menarik dan memikat.

Penyajian gethuk selalu ditemani dengan taburan kelapa parut kukus yang sudah diberi sedikit garam. Kelapa parut ini bukan hanya hiasan, melainkan juga penambah cita rasa gurih yang kaya, menciptakan perpaduan manis, gurih, dan kenyal yang harmonis di setiap gigitan. Kesederhanaan bahan namun kaya rasa inilah keunggulan gethuk.

Gethuk: Warisan Kuliner Yang Terus Lestari

Gethuk tidak hanya populer di kalangan masyarakat Jawa, tetapi juga telah dikenal luas di seluruh Indonesia sebagai camilan yang lezat dan bergizi. Kehadirannya seringkali menjadi ikon dalam acara-acara adat, pertemuan keluarga, atau sekadar teman minum teh di sore hari. Gethuk sukses melampaui batas geografis.

Peran gethuk sebagai warisan kuliner yang harus dilestarikan semakin penting di era modern ini. Upaya untuk memperkenalkan gethuk kepada generasi muda, baik melalui festival kuliner maupun inovasi penyajian, terus dilakukan. Dengan demikian, gethuk akan tetap relevan dan dicintai oleh banyak orang.

Lebih dari sekadar hidangan penutup, gethuk adalah cerita tentang ketahanan pangan, kreativitas, dan kekayaan budaya Indonesia. Setiap suapan gethuk membawa kita pada perjalanan rasa yang manis, mengingatkan akan nilai-nilai tradisional dan kehangatan nusantara. Gethuk adalah mahakarya kuliner yang patut dibanggakan.

Selalu pantau berita terbaru seputar ZONA INDONESIA dan info menarik lain yang membuka wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Pertama dari halalmui.org
  • Gambar Kedua dari tokopedia.com