RPI Bahas Tariqah Haddadiyah, Pembicara Sayyid Muhammad Yusuf Aidid

RPI Bahas Tariqah Haddadiyah, Pembicara Sayyid Muhammad Yusuf Aidid

Zonaindonesia.id – Rumah Produktif Indonesia Kembali melaksanakan Kajian Ramadan edisi kedua, setelah sebelumnya sukses melaksanakan kajian dengan membahas salah satu tokoh kenaman Indonesia yaitu Buya Hamka.

Pada Ramadan kali ini RPI aktif melaksanakan Kajian Ramadan dengan fokus membahas tokoh-tokoh tertentu. Pada edisi kedua di Jum’at sore Ramadan keempat ini, RPI mengangkat tokoh Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad dan Internalisasi Thariqah Haddadiyah dalam Urbanisme yang dijelaskan secara langsung oleh dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Indonesia, Sayyid Muhammad Yusuf Aidid.

Berikut beberapa penjelasan ringkas dari apa yang dipaparkan oleh Sayyid Muhammad Yusuf Aidid:

Apa itu urban sufisme? Masyarakat kota merupakan masyarakat maju dan modern yang identik dengan nilai keinginan untuk memeproleh materi (uang), masyarakat yang berada dalam posisi ini bertujuan untuk memperoleh pengakuan status sosial yang berakibat kepada stress, depresi, kriminalitas dan kejahatan maka solusi atas persoalan tersebut ialah tasawuf. Begitu hal yang disampaikan dosen PAI ini.

Sayyid Muhammad menjelaskan kajian Julia Day Howell asal Australia. Menurut Howell urban sufisme ini ditujukan kepada masyarakat menengah perkotaan sebagai transformasi dari tasawuf modern. Dalam urban sufismenya Howell ini menuai kritik, karena menurutnya dalam urban sufisme tidak perlu ada hubungan khusus antara guru dan murid. Namun terbantah oleh ungkapan bahwa barang siapa seorang yang bertarikat tanpa berguru maka gurunya adalah syaitan.

Tariqah Haddadiyah merupakan tarikat paling mudah di antara tarekat mu’tabarah lainnya. Tariqah ini sebenarnya neo sufisme dari tariqah Alawiyah. Tarekat ini dicetuskan oleh Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang dilahirkan di Tarim , Hadramaut pada senin 5 Safar 1044 H. ayahnya adalah Sayyid Alwi bin Muhammad al-Haddad dan ibunya adalah syarifah Salma bin Umar Baalwi.

Sejak kecil Imam al-Haddad telah menampakkan kewaliannya. Ketika itu beliau diuji oleh Allah penyakit cacar yang mengakibatkan kebutaan namun tidak membuatnya pesimis malah beliau ingin seeprti ayahnya. Dalam disertasi al Badawi menjelaskan hal yg membedakan dengan dengan anak seusianya yaitu ia mulai mengkaji ilmu dan mengahafal al-Quran.

Selain itu masa kecil Imam al Haddad bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan mulai membaca kitab dari para ulama dan mengambil ilmu darinya. Pada umur 15 tahun lebih Imam Haddad belajar kitab Irsyad kepada Sayyid Sahal al-Kabs kemudian menghafal kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali dengan Syekh Bajubair di luar kepala dan beberapa kitab lain dipelajarinya.

Al-Haddad meilhat bahwa ajaran atau sistem yang ada pada tariqat al Alawiyah ini belum terbentuk, karena aliran ini terbagai atas dua, alkhumul (bersembunyi dari ketenaran) dan al fakr (sederhana). Kemudian Imam al-Haddad menformulasikan bentuk dan model baru dari tarekat Alawiyah, tadinya hanya dua bentuk (Alfakr, Alkhuml) menjadi tariqah ahl al yamin yang lebih dikenal dengan sebutan thariqah Haddadiyah.

Tarikat ahl-yamin ini merupakan tharikat yang umum dan mudah dilakukan setiap orang, tanpa baiat, berbeda dengan tarekat lainnya. Tarekat ini memiliki wirid-wirid mudah.

Tarekat ini terinisiasi atau terbentuk oleh karena dorongan yang disebabkan oleh manusia yang disibukkan oleh urusan dunia dan sedikitnya mengingat akhirat.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *