Wisata Religi Sambut Ramadhan, Paguyuban Arisan Family 100 Cilungup Duren Sawit

Wisata Religi Sambut Ramadhan, Paguyuban Arisan Family 100 Cilungup Duren Sawit

Zonaindonesia.id, Jakarta- Tak dipungkiri, ziarah telah menjadi tradisi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Tradisi itu tak hanya dilakukan terhadap leluhur, orangtua, atau anggota keluarga yang dicintai. Tradisi juga itu meluas dengan berziarah ke makam tokoh penyebar agama yang penuh karisma dan sangat dihormati dan diyakini sebagai waliyullah.

Berziarah ke makam para Waliyullah, selain berdoa kepada Allah dengan wasila keberkahan Waliyullah semasa hidupnya, juga sebagian di antaranya berziarah justru untuk mendapatkan ketenangan jiwa dan pikiran. Dengan cara itu akan tumbuh kembali motivasi dan kesadaran beragama setelah disibukkan oleh rutinitas yang melelahkan.

Salah satu obyek wisata religius di Tatar Sunda yang banyak diziarahi orang adalah makam Syekh Haji Abdul Muhyi. Makam ini terletak di Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, 65 kilometer arah selatan dari pusat kota Tasikmalaya. Menjelang puasa dan bulan Maulid, obyek wisata ziarah ini ramai dikunjungi.

Setiap tahun tak kurang dari 500.000 orang berkunjung ke kompleks pemakaman itu. Sempat terjadi kekosongan peziarah pada awal masa pandemi Covid-19, namun beberapa bulan belakangan lokasi ini kembali ramai oleh par peziarah, tentu saja menerapkan protokol kesehatan Covid-19 secara disiplin.

Diantara para Peziarah yang datang ke tempat tersebut paguyuban atau kelompok Arisan FAMLY 100 Cilungup Duren Sawit yang didominasi oleh kaum muda yang dibimbing oleh Ust. Badruzzaman, SH, S.Pd.I. Rasa kerinduan berziarah ke makam Waliyullah ini membuat para peserta yang mendaftar hampir tak tertampung.

Di area wisata religi ini, ada 3 tempat yang diziarahi oleh Paguyuban Family 100 Cilungup, yaitu Makam Waliyullah, Syeikh Haji Abdul Muhyi, Goa Safarwadi dan Makam Syeikh Khotib Muwahid.

Berziarah mengunjungi makam Syekh Haji Abdul Muhyi yang merupakan objek utama ziarah ke kawasan tersebut.Terletak ditebing sebelah utara Desa Pamijahan, makam ini seolah berada di atas bukit yang dikelilingi hamparan sawah yang subur. Di sekitar kompleks makam tumbuh pepohonan besar yang memberi kesan rindang dan teduh; suatu kondisi alamiah yang sangat mendukung fungsi kerahmatannya.

Berbeda dengan kompleks makam lain, makam Syekh Haji Abdul Muhyi mendapat perlakuan sangat khusus. Di samping bangunannya sangat megah dari konstruksi beton permanen juga tersedia berbagai fasilitas yang menunjang aktivitas ziarah seperti masjid, kolam dan sarana air bersih serta balai-balai yang dapat digunakan para peziarah melakukan zikir.

Setelah membaca Surat Yasin, Tahlil dan berdoa, kemudian Peserta ziarah Family 100 melanjutkan perjalanan ke Goa Safarwadi yang tak jauh dari lokasi makam. Nama Safarwadi berasal dari bahasa Arab, yaitu “safar” (jalan) dan “wadi” (lembah/jurang). Jadi, Safarwadi adalah jalan yang berada di atas jurang, sesuai dengan letaknya di antara dua bukit di pinggir kali. Di goa itu terdapat petilasan Syekh Haji Abdul Muhyi, seperti pertapaan, masjid, batu Peci Haji, dan tempat yang dulunya dipercaya sebagai pesantren.

Terdapat pula stalaktit (hasil sedimentasi yang mengantung di langit-langit goa) dan stalagmit (sedimentasi yang terbentuk di dasar goa) yang menambah pesona goa tersebut. Dari Goa Safarwadi, Mereka berziarah ke Makam Syeikh Khotib Muwahid terletak di bagian hulu Cipamijahan, tepatnya pada tebing sebelah utara. Makam ini menjadi kunjungan terakhir yang harus terlebih dahulu melalui Goa Saparwadi. Seperti juga makam lain, bangunan makam dan cungkupnya cukup megah dengan pintu gerbang menyerupai bentuk kurawal atau seperti mihrab pada sebuah masjid besar.

Menurut silisilahnya, Syekh Khotib Muwahid mempunyai hubungan khusus dengan Syekh Abdul Muhyi, selain sepupu juga menjadi ipar Syekh Abdul Muhyi, karena ia adalah anak Nyi Raden Kasimpen, kakak kandung Lebe Warta. Yang terakhir ini adalah ayah Syekh Abdul Muhyi. Hubungan ipar ditentukan oleh perkawinannya dengan Nyai Kodrat, yang tidak lain adik kandung Syekh Abdul Muhyi. Keesokan harinya mereka melanjutkan wisata religi ke makam keramat Nusa Gede atau atau Nusa Larangan yang terletak ditengah danau Situ Lengkong, Panjalu, Ciamis, Jawa Barat.

Di dalam Nusa atau pulau tersebut terdapat makam keramat Prabu
Sanghyang Hariang Kancana atau dikenal Mbah Panjalu. Penamaan Nusa Larangan, karena
apabila kita berada di daerah Kecamatan
Panjalu harus menjaga ucapan serta
tingkah laku atau kita harus bersikap sopan
jangan sampai ucapan-ucapan yang tidak
sopan keluar dari mulut kita.

Terlihat Sekeliling makam keramat ditumbuhi berbagai jenis pohon besar yang berdiri kokoh,
Para peziarah yang datang ke Nusa
Larangan menggunakan perahu yang telah
disediakan. Di area makam tersebut, mereka masuk dan berdoa
kepada Allah SWT dengan niat dan
maksud yang diinginkan masing-masing.

Hasanuddin El Djufri, Ketua Panitia Wisata Religi Family 100 berharap agar tahun depan peserta yang ikut lebih banyak lagi guna meraih keberkahan, kekuatan iman dan keberhasilan hidup atas karomah para waliyullah yang telah diziarahi makamnya. (Ltf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *