Kisah Abu Yazid Al Bustomi dan Seekor Anjing

Kisah Abu Yazid Al Bustomi dan Seekor Anjing

ZONAINDONESIA.ID- Abu Yazid adalah seorang tokoh sufi berkebanhsaan persia yang lahir pada tahun 804 Masehi atau 188 Hijriah dan meninggal tahun 261 Hijriah atau 875 Masehi di Bistami Persia.

Setelah banyak mempelajari Al Qur’an dan Hadist-Hadist Nabi serta mempelajari ilmu fiqih Mazhab Hanafi dan akhir nya beliau mengambil jalan tasawuf.

Di riwayatkan dalam sebuah kisah, pada suatu malam Abu Yazid sedang berjalan sendirian, lalu ia melihat seekor anjing berjalan kearah nya, anjing tersebut acuh saja berjalan dan tidak menghiraukan Abu Yazid namun anjing itu semakin mendekat dan hampir berpapasan dengan nya mengetahui hal tersebut lalu Abu Yazid mengankat gamis nya karena takut bersentuhan dengan anjing tersebut.

Dengan tiba-tiba anjing tersebut berhenti dan memandang kerah nya, dan entah bagai mana Abu Yazid seperti mendengar anjing tersebut berkata kepada nya.

“Tubuh ku ini kering tidak akan menyebabkan najis kepada mu dan bila memang kamu terkena najis ku kamu tinggal membasuh tujuh kali dengan air dan tanah maka najis di tubuh mu akan hilang, namun jika kamu mengangkat gamis mu karena kamu menganggap diri mu yang berbaju dan berbadan manusia lebih mulia dan menganggap diri ki yang tanpa pakaian dan berbadan anjing ini najis dan hina maka najis yang menempel hati mu itu tidak akan bersih walau kau basuh dengan air tujuh samudra”, kata anjing tersebut.

Abu Yazid kaget dan tersentak lalu meminta maaf dan sebagai permohonan maaf nya Abu Yazid mengajak anjing itu bersahabat dan berjalan bersama nya, tapi anjing itu menolak nya.

Lalu anjing tersebut kembali berkata “Engkau tidak pantas berjalan dengan ku karena mereka yang memuliakan kamu akan mencemooh mu dan akan melempari aku dengan batu, aku tidak tahu mengapa orang-orang menganggap ku begitu hina padahal aku berserah diri pada Sang Pencipta diri ini, lihatlah aku juga yang berjalan tanpa menyimpan dan membawa sepotong tulang pun, sedang engkau masih menyimpan sekarung gandum”, kata anjing itu lagi.

Kemudian anjing tersebut terus berjalan dan berlalu meninggalkan Abu Yazid yang masih terdiam, lalu Abu Yazid berkata dalam hati nya “Ya Allah untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan Mu saja aku tak pantas, bagaimana aku pantas berjalan dengan Mu, ampuni aku dan sucikan hati ku dari najis Ya Allah”, ucap Abu Yajid dalam hati nya.

Dari kisah tersebut kita dapat memetik teladan untuk kesucian hati kita bahwa setinggi apapun ilmu yang kita punya, sehebat apapun kita, tetap kita tidak boleh merasa lebih suci dan merendahkan hamba Allah Ta’ala yang lain nya karena kita tidak mengetahui siapa yang paling suci di antara hamba-hamba Nya seperti yang di Firmankan di dalam Al Qur’an.

“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguh nya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”

QS : An Najm ayat 32

Wallahualambisawab

Di Tulis kembali oleh Tim Redaksi
(JS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *