Mengenal Al Habib Abu Bakar Assegaf Gresik

Mengenal Al Habib Abu Bakar Assegaf Gresik

ZONAINDONESIA.ID- Jauh bertahun-tahun sebelum kelahiran beliau, Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi Seiwun telah memberikan bisyaroh (kabar gembira) akan kelahiran seorang wali besar yang bernama Abu Bakar. Habib Ali berkata kepada seseorang muridnya, “Ada 3 orang kekasih Allah yang namanya sama, haliyah / keadaannya sama dan maqomnya pun sama. Yang pertama sudah di alam barzakh yaitu Habib Abu bakar al Adni bin Abdullah al Aidrus al Akbar, yang kedua pernah kau lihat di masa kecilmu yaitu Habib Abu Bakar bin Thalib Al Athas dan yang ketiga akan kau lihat di akhir hidupmu”. Ketika di akhir hidupnya murid beliau tersebut bermimpi jumpa Rasulullah 5 malam berturut-turut, di akhir mimpinya Rasul berkata, “Aku bersama dengan cucu kesayanganku yaitu Abu bakar Assegaf”.

Beliau lahir tahun 1285 H di Besuki Jawa Timur, yatim sejak kecil. Ketika berusia 8 tahun tepatnya pada tahun 1293 beliau menuntut ilmu di kota cahaya Tarim Hadramaut. Sejak masih kanak-kanak Rasulullah sering menemui beliau dalam mimpi.
Habib Abu Bakar termasuk orang yang mahfudz, tidak pernah terlintas maksiat kepada Allah sedikitpun di hatinya dan istiqomah melakukan sholat tahajud sejak masih kanak-kanak.

Di Tarim, hati para kaum arifin yang memiliki basiroh yang tajam melihat nur yang sangat terang pada diri Habib Abu Bakar Assegaf hingga mereka pun mencurahkan perhatiannya kepada Habib Abu Bakar. Guru-guru beliau di Tarim adalah para wali agung seperti al Quthb Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Quthban, Habib Abdullah bin Umar Assegaf, Habib Muhammad bin Ali Assegaf, Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, al Quthb Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas, Habib Abdurrahman al-Masyhur, Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur, dan juga al Quthb Habib Syekh bin Idrus al-AIdrus.
Habib Abu bakar mendapat perhatian khusus dan pengawasan yang istimewa dari gurunya Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi sampai-sampai Habib Ali sendiri yang meminangkan beliau dan sekaligus menikahkannya. Sedangkan Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Quthban adalah syaikhul fath (guru yg membuka hijab beliau) dan sering memberi berita gembira kepada beliau, “Engkau adalah pewaris haliyah kakekmu al Habib Umar bin Segaf (Imam wadi Ahqof)”.

Tahun 1302 H beliau kembali ke Indonesia dan tinggal di Besuki selama 3 tahun. Selanjutnya pada tahun 1305 H, ketika beliau berumur 20 tahun beliau pindah dan menetap di Gresik. Meski sudah menjadi lautan ilmu beliau tetap merasa haus ilmu hingga beliau menimba ilmu lagi kepada para guru-guru agung di Jawa Timur seperti Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas, al Habib Abdullah bin Ali al-Haddad Sangeng Bangil, al Habib Ahmad bin Abdullah al-Atthas, al Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya, al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, al Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdlor, dan lain sebagainya.

Pada tahun 1321 H, tepatnya pada hari Jum’at ketika khatib berdiri di atas mimbar, beliau r.a mendapat ilham dari Allah SWT untuk mengasingkan diri dari manusia. Maka tunduklah hati beliau mengikuti perintah Allah. Seketika setelah beliau keluar dari masjid jami’ menuju rumah kediamannya beliau uzlah / khalwat di sebuah bilik kecil di rumahnya. Berpisah dari manusia selama lima belas tahun duduk di hadapan Allah subhanahu wataala. Selama itu pula beliau tidak menemui seorang pun dan tidak seorangpun dapat menemuinya. Hingga pada saat-saat tertentu Hubabah Syifa sang istri mengkhawatirkan keadaan beliau terkena sihir atau yg lain. Hubabah Syifa sempat bertanya kepada banyak tabib namun keadaan Habib Abu bakar tidak berubah. Sampai suatu hari ketika datang guru beliau Habib Abdul Qadir bin Qutban, Hubabah Syifa menanyakan hal tersebut dan Habib Abdul Qadir menjawab, “Jangan khawatir, bahkan setanpun tak bisa mendekatinya.”
Tatkala tiba saat Allah mengizinkan beliau untuk keluar dari khalwatnya, guru beliau al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi mendatanginya dan memberi isyarat kepada beliau untuk mengakhiri masa khalwatnya, al Habib Muhammad bin Idris al-Habsyi berkata, “Selama tiga hari kami bertawajjuh dan memohon kepada Allah agar Abu Bakar bin Muhammad Assegaf keluar dari khalwatnya”,

Lalu beliau menggandeng tangan Habib Abu Bakar Assegaf kemudian bersama-sama menziarahi al Habib Alawi bin Muhammad Hasyim. Setelah itu meluncur ke kota Surabaya menuju kediaman Habib Abdullah bin Umar Assegaf. Sambil menunjuk kepada al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi memproklamirkan kepada para hadirin, “Ini al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf termasuk mutiara berharga dari simpanan keluarga Ba ‘Alawi, kami membukanya agar bisa menularkan manfaat bagi seluruh manusia baik kalangan khos maupun kalangan awam”.

Setelah itu Habib Abu Bakar membuka majlis ta’lim di rumahnya mengaji kitab Ihya Ulumuddin. Setiap kali khatam beliau ulang lagi dari awal hingga beliau mengkhatamkannya sebanyak lebih dari 40 kali. Dan beliau selalu mengadakan jamuan makanan untuk seluruh hadirin setiap selesai khatam. Orang-orang yang menghadiri mejelis beliau merasakan keberkahan yang luar biasa dari majelis beliau.
Murid-murid beliau adalah para wali agung seperti alQuthb Habib Sholeh Tanggul, Habib Husein bin Muhammad al Aidrus Surabaya (Habib Neon), Habib Abdul Qodir Assegaf Solo, Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih Malang, dan sebagainya.

Suatu hari Habib Abdul Qodir Bilfagih hendak pulang ke Kota Malang beliau dipesan oleh Habib Abu Bakar Assegaf agar membawa anaknya jika hendak ke Gresik untuk menimba Ilmu. Beberapa hari kemudian Habib Abdul Qodir Bilfagih datang ke Gresik dengan membawa anaknya. Ketika sampai di rumah Habib Abu Bakar, beliau sowan dan memperkenalkan anaknya yang bernama Abdullah bin Abdul Qodir Bilfagih.
Kemudian anak tersebut (Habib Abdullah) ditanya oleh Habib Abu Bakar, “Maukah engkau kutunjukan alam Surga beserta isinya? Dikarenakan hatimu yang bersih ini…Dan lihatlah ke atas langit itu”.

Ketika Habib Abdullah Bilfagih mengarahkan pandangannya ke langit bergetarlah sekujur tubuh beliau menyaksikan surga dengan mata dzohir hingga keringat beliau bercucuran dan jatuh pingsan karena tidak tahan melihat karomah Habib Abu Bakar Assegaf.
Dikatakan bahwa maqom (kedudukan) Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf telah mencapai tingkat Shiddiqiyah Kubro. Maqom puncak di mana tidak ada lagi maqom di atasnya kecuali kenabian. Hal itu telah diakui oleh para wali yang hidup sezaman dengan beliau.
Al-Imam Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar berkata,
“Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil.. Sungguh Al-Akh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah mutiara keluarga Segaf yang terus menggelinding (maqomnya) bahkan membumbung tinggi menyusul maqom-maqom para aslafnya (leluhurnya).”
Al Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad berkata,
“Sesungguhnya Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang Quthb Al-Ghaust juga sebagai tempat turunnya pandangan (rahmat) ALLAH SWT.”

Al-Arif Billah Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi pernah berkata di rumah Al-Habib Abu Bakar Assegaf dikala beliau membubuhkan tali ukhuwah antara beliau dengan Al-Habib Abu Bakar Assegaf, pertemuan yang diwarnai dengan derai air mata.
Habib Ali berkata kepada para hadirin ketika itu,
“Habib Abu Bakar ini adalah Raja Lebah (Rajanya para Wali di zamannya). Beliau adalah saudaraku di jalan ALLAH. Pandanglah beliau, karena memandang beliau adalah Ibadah.”
Al-Habib Husain bin Muhammad al-Haddad berkata,
“Sesungguhnya Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah. Beliau adalah penguasa saat ini, beliau adalah Pemimpin Para Wali di masanya, beliau telah berada pada Maqom As-Syuhud yang mampu menyaksikan (mengetahui) hakekat dari segala sesuatu.”
Berkata Abah Guru Sekumpul,
“Habib Abu Bakar Assegaf telah mencapai maqom Sahabat karena sangat seringnya bertemu Rasulullah dalam keadaan jaga.”
Di antara ucapan Al Quthb AlHabib Abubakar Assegaf adalah :
“Jika seorang wali meninggal, mereka pasti mengangkat seseorang untuk menggantikannya, mewarisi hal (keadaan)nya dan menduduki kedudukannya. Jika pengganti yang terpilih belum memiliki kemampuan itu untuk menerima hal tersebut, mereka menitipkan hal tersebut kepada salah seorang wali sebagai wakil sampai sang pengganti mampu untuk membawa sirr tersebut.
Kadang-kadang Allah mengujinya dengan menggerakkan lisan masyarakat yang mengganggu harga dirinya, mencela dan menyakitinya sehingga keadaannya menjadi sempurna dan menjadi mampu membawa sirr tersebut. Saat itulah mereka berikan warisannya.”

Diriwayatkan bahwa beliau mengalami suatu penyakit yg parah hingga tampak bekas hitam di dada beliau. Hal ini dikarenakan beliau adalah Penyandang Bala’ bagi umat manusia. Beliau berkata, “Apa yang kalian lihat menimpa diriku sebenarnya bukanlah musibah, itu adalah kenikmatan di atas kenikmatan, aku merasakan kesenangan dan kelezatan dengannya. Sedangkan rintihan, keluhan yang kalian dengar dariku hanyalah sesuatu yang manusiawi, pengakuan atas kelemahanku dan kebutuhanku kepada Allah SWT. Sekarang aku menikmati dua kesenangan. Nikmat sabar dan syukur”

Beliau juga berkata,
“Saat aku sakit, Al-Musthofa SAW datang menjengukku dan aku dalam keadaan sadar (yaqodhoh).
Aku berpelukan dengan Beliau SAW di tempat ini (sambil menunjuk tempat yang biasa beliau duduki).
Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam juga pernah datang ke tempat ini setelah sholat Ashar dan aku dalam keadaan terjaga.
Aku sedang duduk di atas sajadah, tiba-tiba Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam datang diapit dua orang lain.
Salah seorang di antara mereka berkata :
“Kenalkah kau orang ini?”
Katanya seraya menunjuk orang yang di tengah.
“Tidak,” Jawabku.
“Beliau adalah kakekmu, Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam,” Kata orang itu.
Para auliya’ bersepakat bahwa Maqom Ijtima’ (bertemu) dengan Nabi SAW dalam waktu terjaga, adalah sebuah maqam yang melampaui seluruh maqom yang lain.
Hal ini tidak lain adalah buah dari mutaba’ah dzohir batin beliau terhadap sunnah-sunnah Nabi SAW.

Beliau juga pernah berkata, “Aku adalah Ahluddarak, barang siapa yang memohon pertolongan Allah melaluiku, maka dengan izin Allah aku akan membantunya, barang siapa yang berada dalam kesulitan lalu memanggil-manggil namaku maka aku akan segera hadir di sisinya dengan izin Allah.”
Pada hari Jumat tanggal 15 Rajab 1368 H, Habib Salim Bin Muhammad Bin Agil berkata, “Aku pernah membacakan kalam Habib Abu Bakar Assegaf yang ada dalam catatanku. Di situ ada kata-kata “Pemberian itu tergantung masyhad”. Beliau Habib Abu Bakar berkomentar tentang masyhad :
“Sebagian orang datang kepadaku tanpa masyhad atau dengan masyhad dunia, sedangkan kami tidak ingin seorang pun keluar dari lingkup kami. Kami ingin semua masuk dalam lingkup kami terutama ahlul bait.”
Suatu saat Habib Abubakar Assegaf melihat sebagian hadirin tampak mengantuk maka beliau menasehati, “Jangan mengantuk, jika kamu punya pandangan lain, biarkan di waktu yang lain. Berkata Habib Ahmad Bin Abdullah Al Attas, “Jika kamu berada di majlis para arifin, janganlah kalian mengantuk, jangan menolak kebaikan dan berbagai pemberian mereka”.
Tanggal 25 Jumadal Ula 1368 H Habib Abubakar berkata,
“Sepatutnya bagi seseorang yang ingin mendatangi seorang waliyullah tidak membawa hal-hal yang bisa mengganggu wali tersebut seperti lintasan-lintasan hati yang jelek, pengingkaran dan sebagainya. Karena hal tersebut dirasakan oleh wali dan membuatnya tidak senang hal itu juga berpengaruh kepada semua yang hadir di sisinya.”

“Pemilik keadaan seperti ini (suudzon/ragu terhadap wali) tidak bisa mengambil manfaat dari sang wali. Karena jika hati telah penuh dengan kejelekan dan pengakuan dengan yang dimiliki dirinya (merasa dirinya berilmu), para wali tidak akan menaruh sedikit pun ilimu-ilmu dan rahasia mereka di hati tersebut. Dan ilmu tidak akan tetap dan menetap kecuali di hati yang bersih.”
“Seharusnya seseorang masuk kepada wali dengan pengakuan, permintaan, mengharap pemberian dan mengambil manfaat, sehingga dia menggapai harapannya. Sebab, zakat hanya diberikan kepada seorang fakir yang mengakui kefakirannya. Sedangkan orang yang merasa cukup dengan dirinya, tidak akan mereka beri apa pun. Aku beritahukan pada kalian bahwa aku mengetahui apa yang menyertai orang yang mendatangiku sebelum ia masuk pintu. Baik itu kebaikan maupun sebaliknya. Karenanya aku ingatkan kalian akan hal tersebut. Dan aku sarankan agar kalian masuk dengan jernih dan bersih agar mendapatkan keinginan kalian.”

Habib Abu Bakar mengijazahkan sholawat Qomariyah. Dibaca sepuluh kali untuk meraih segala hajat dan kebaikan dunia akhirat.

‎اللهم صل على سيدنا محمد قمر الوجود فى هذا اليوم وفى كل يوم و فى اليوم الموعود سرا و جهرا فى الدنيا و الاخرى وعلى اله و صحبه و سلم
Ujar Habib Abdurrahman Bilfaqih, “Siapa yang membaca sholawat Qomaril Wujud sepuluh kali maka akan mendapat sirr dari Habib Abu Bakar as Segaf”
Dalam acara rutinan rauhah 3 Jumadal Ula, 1355 H. Pada acara rauhah di Kediaman beliau di Gresik, al Habib Abu Bakar bin Muhammad assegaf menuntun orang-orang yang hadir di acara tersebut dengan kalimat jalalah berikut ini:
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَوْجُودْ فِيْ كُلِّ زَمَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْبُودْ فِيْ كُلِّ مَكَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَذْكُورْ بِكُلِّ لِسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْمَعْرُوفْ بِاْلاِحْسَانْ
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْن
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ اَلْأَمَانْ اَلْأَمَانْ مِنْ زَوَالِ الْاِيْمَانْ
وَمِنْ فِتْنَةِ الشَّيْطَانْ، يَا قَدِيْمَ الْاِحْسَانْ
كَمْ لَكَ عَلَيْنَا مِنْ إِحْسَانْ،
اِحْسَانُكَ الْقَدِيمْ ,يَا حَنَّانْ يَا مَنَّانْ،
يَا رَحِيمُ يَا رَحْمَانْ, يَا غَفُورُ يَا غَفَّارْ، اِغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينْ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Setelah beliau menuntun hadirin dengan dzikir di atas beliau bercerita,
”Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang sholeh dia adalah al-Qodhi Abdullah al-Baghdadiy . Dia berkata, “Aku pernah melihat Nabi Muhammad shalallahu a’laihi wa sallam di dalam mimpi dan beliau terlihat pucat sekali lalu aku berkata kepada Nabi Muhammad shalallahu a’laihi wa sallam, “Kenapa engkau wahai Nabi, wajah engkau pucat sekali ?” Lalu Nabi Muhammad shalallahu a’laihi wa sallam menjawab, “Di malam ini telah meninggal 1.500 orang dari ummat-KU, dua dari mereka meninggal dalam keadaan iman dan sisanya meninggal tanpa membawa iman (su’ul khotimah).” Aku berkata lagi kepada Nabi Muhammad shalallahu a’laihi wa sallam, “Lalu apa kiat-kiat dari engkau untuk orang-orang yang bermaksiat agar mereka meninggal dengan membawa iman?” Nabi Muhammad shalallahu a’laihi wa sallam berkata, “Ambilah kertas ini dan bacalah, siapa orang yang membacanya dan membawanya lalu dia memindah dari satu tempat ke tempat yang lain ( menyebarkan dan mengajarkan ) maka termasuk dari golonganku dan akan meninggal dalam keadaan membawa iman, akan tetapi siapa orang yang telah mendengarkannya dan dia tidak membacanya, tidak menyebarkannya maka dia lepas dari aku dan akupun lepas darinya.”

Seketika itu aku langsung terbangun dari tidurku dan aku lihat kertas tersebut yang telah ada di genggamanku ternyata di dalamnya berisi tulisan yang penuh barokah.” Tulisan tersebut adalah kalimat Jalalah yang tersebut di atas.
Menjelang wafatnya, Habib Abu Bakar berpuasa selama 15 hari tidak pernah makan dan minum dan tidak keluar dari kamar kholwatnya dan sering kali berkata’ “Aku merasa bahagia akan berjumpa dengan Allah swt.”
Semoga Allah meninggikan derajat Habib Abu Bakar Assegaf, dan mengumpulkan kita semua kelak bersama beliau dan Rasulullah di surga Allah…Aamin…
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa alihi wa sohbihi wa sallim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *