Sumbernya Kebijakan Yang Salah : Imunitas Kesehatan Rakyat Melemah Covid Pun Makin Mewabah

Sumbernya Kebijakan Yang Salah : Imunitas Kesehatan Rakyat Melemah Covid Pun Makin Mewabah

ZONAINDONESIA.ID- Catatan, asep lukman
Pertama, kebijakan penertiban dan pelarangan organisasi dan tokoh radikal dalam pandangan pemerintah, di lapangan seringkali menciptakan kewas-Wasan psikologis pada diri-diri Masyrakat. Ketegangan ketegangan sosial semacam inilah akumulasinya tentu berdampak pada semakin melemahnya imunitas

Kedua, kebijakan protokol kesehatan 3M, lockdown, PSBB, new normal dan berbagai peristilahan lainya yang terdengar ruwet itu, dalam realisasinya ternyata sangat menghambat kebebasan aktivitas dalam berekonomi, di lain pihak alternatif berekonomi tidak siapakan. Padahal dalam keadaan kondisi pandemi, Masyrakat sangat membutuhkan uang melebihi situasi normal. selain demi keperluan asupan gizi yang cukup rupanya berbagai kebutuhan hidup pun malah naik oleh karena terhambatnya produksi dan jalur distribusi. Di lain pihak biaya sekolah, listrik, pajak, tol, kesehatan, internet dll pungutannya jauh untuk bisa dihentikan bahkan sekedar diturunkan pun tidak

Ketiga, kebijakan bantuan covid mulai dari soal kesehatan serta sekantong makanan alakadarnya pun dalam penyalurannya sangatlah kurang terencana dengan matang dan terukur. Terbukti, secara teknis malah banyak terhambat dan menjadi kue rebutan sebagian elit juga koruptor

Empat, statemen para mentri presiden Jokowi di waktu yang lalu yang seolah-oleh menyepelekan virus corona, mengisyaratkan kedangkalan pengetahuan para pejabat berwenang soal resiko. Sekaligus indikasi kegagalan nalar pejabat dalam merespon apa yang akan terjadi dalam konteks “early warning system”. Akibatnya kepercayaan publik menurun terhadap profesionalisme pejabat terkait.

Berikutnya Keraguan publik ini sangat menurunkan imunitas jiwa masyarakat sendiri, dalam istilah psikologi Gangguan kepribadian seperti Ini disebut obsesif kompulsif. kondisi “gila kendali”. Mereka sulit percaya pada orang lain karena paranoid dan lebih memilih mengatur atau menyelesaikan tugasnya sendiri. Wajar, jika program vaksinasi pun diragukan sebagain kalangan.

Lima, “berdamai dengan corona” sesunggunya potongan statemen presiden Ini bukanlah kebijakan, tapi karena yang mengutarakan seorang presiden dampaknya tetap besar.

Apakah itu ?, tidak sedikit kalimat Ini diterjemahkan sebagai rasa prustasi seorang pemimpin negara dalam menghadapi virus. Hingga yang awalnya bicara perang melawan corona menjadi kompromistis memilih berdamai. Efeknya masyarakat memilih menyerah sebagai manifestasi tafsirnya sendiri atas kalimat presiden, sebagian yang lain menirukan ucapan persiden dengan nada menyepelekan rosiko. Meskipun banyak juga yang memahami positif soal maksud ucapan persiden tersebut. Namun satu ucapan Multi tafsir dari seorang presiden adalah kegaduhan itu sendiri dan setiap kegaduhan pasti akan menciptakan Stres yang dapat terjadi karena situasi atau pikiran yang membuat seseorang merasa putus asa, gugup, marah dan bimbang

Enam, Kebijakan Reshuffle kabinet. mengganti, mencopot atau merotasi menteri adalah hak presiden dengan kata lain merupakan kewenangan absolute sorang presiden. Maka Konsekwensinya, jika salah, yang salah 100% adalah presiden.

Apakah ada hubunganya dengan imunitas tubuh masyarkat. Jelas ada, apakah itu ?

Menurut kacamata orang politik, reshuffle adalah jalan terbaik untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan demi sebuah jabatan yang selalu diidam-idamkan, karena sebab itulah reshuffle menjadi begitu hangat diperbincangkan mereka. Wajar jika ribuan orang bergelimpangan terpapar rasa kecewa, sebagian dengan berjalannya waktu bisa menerima selebinya tetap bersedih hati, tak sedikit yang jatuh sakit lemah tak berdaya

Saudarah semua, pada bagian akhir tulisan ini ijinkan saya sedikit berakselerasi mengupas soal Reshuffle kabinet dan hubunganya dengan kesehatan jiwa Masyrakat.

Sejujurnya, Reshuffle adalah bukti ironis seorang presiden yang konon katanya ahli dalam bekerja hingga dipercaya oleh rakyat untuk mengemban amanah, ternyata malah gagal dalam memilih para pembantunya dalam menjalankan tugas. Perlu diketahui bahwa kasus demikian bukan merujuk hanya untuk negara kita saja

Reshuffle secara alamiah pasti akan selalu terjadi dalam cerita rezim, kenapa..? karena hal itu memang selalu seiring dengan rasa ketidak puasan masyarakat pada kinerja pemerintah. Karena setiap rezim pasti akan selalu ada kegagalan khususnya dalam memenuhi janji siap sejahterakan masyarakatnya.

Disamping reshuffle adalah langkah penyegaran politik, reshuffle juga bisa dijadikan strategi untuk menyulap mata masyarakat agar mereka kembali menaruh harapan yang baik pada kinerja pemerintah, langkah ini sedikit bisa menyelamatkan posisi rezim dari ancaman reaksi sosial yg menuntut pembubaran atau kudeta

Artinya: reshuffle hanya ritul poltik yang diberi narasi “upaya untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang kian murat-marit” meski sebenarnya kadang hanya demi memperjuangkan eksistensi rezim agar bisa terjaga dan berumur panjang

Namun Sekarang ini kebijakan Reshuffle diucapakan para penyair, konon katanya sebagai langkah maha solutif demi memecahkan berbagai masalah bangsa.

Pernyataan. jika faktanya Salah apakah tidak akan membuat kondisi makin parah ? .

Dampaknya pasti sistemik, Bukan hanya pada soal politik, Ekonomi dan keaman secara makro. Namun secara otomatis pada ekonomi keluarga serta kesehatan individu Warga bangsa .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *