Testimoni Disertasi Dr Saefudin Latief Tentang Nilai Nilai Pendidikan Islam Dalam Lirik Lagu H Rhoma Irama

Testimoni Disertasi Dr Saefudin Latief Tentang Nilai Nilai Pendidikan Islam Dalam Lirik Lagu H Rhoma Irama

ZONAINDONESIA.ID, BEKASI- Rhoma Irama atau Raden Haji Oma Irama yang akrab disapa Bang Haji atau Wak Haji adalah seniman cum pendakwah konsisten.

Sejak Soneta berdiri pada 11 Desember 1970, sosok bersuara merdu dan gemar bersilat ini terus berlagu dangdut nan berpetuah.

Lagu lagu H Rhoma Irama sang Maestro Musik dangdut memang sangat inspiratif, lirik nya menggugah kita untuk berbuat kebaikan.

Pada hari sabtu, 23 Januari 2021 di Fakultas Agama Islam,Universitas Islam Assyafiiyah, Jatiwaringin sedang ada perkuliahan S3 Program Dakwah.

Dr Saefudin Latief ,beliau
Alumni Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Raden Patah, Palembang 2019. disertasi beliau berjudul Nilai nilai pendidikan Islam dalam lirik lirik lagu dangdut H Rhoma Irama(Suatu Pendekatan Hermeunetik dan Semiotika)
Di jadikan testimoni oleh para Mahasiswa Kandidat Doktor Dakwah,
Di moderatori oleh Firdaus Turmudzi dan di bimbing langsung oleh Dr. Khaeron selaku Dekan Fakuktas Agama Islam Universitas Islam As syafiiyah.

Lirik dari H Rhoma Irama khas karena bermuatan dakwah. Dangdutnya khas karena berdinamika rock dan eksperimental.

Dakwah dengan lirik spiritualistik kerap disuntikan Rhoma Irama dalam menggarap lagu-lagu dangdut Soneta. Antara lain, lagu Laillahaillallah yang bermuatan kesaksian keesaan Tuhan, dalam album musik untuk film Raja Dangdut (1978) dan album khusus bertajuk Haji (1983). Kemudian, lagu Setete Air Hina dalam album Renungan dalam Nada (1983) yang mengutip surat Ath-Thariq ayat 5 – 7, yang mengajak menjauhi sikap sombong karena manusia berasal dari proses biologis yang ’hina’. Pun, lagu Lima, memuat petuah dari Hadis nabi Muhammad SAW mengenai peringatan menjaga lima hal baik dalam hidup sebelum lima yang buruk datang, dalam album musik untuk film Cinta Segitiga (1979).

Tak hanya lirik yang sarat spiritualistik Rhoma Irama berdakwah, hal-ihwal lain pun jua digarapnya. Diantaranya, ada lagu yang mengulas persoalan perilaku negatif masyarakat, seperti kebiasaan begadang, berjudi, mabuk-mabukan, menggunakan narkoba, dan lainnya. Selain itu, ada pula tema seputar demokrasi, nasionalisme, kesenjangan sosial, perubahan zaman, kepemudaan, citra wanita, dan percintaan pun digunakan dalam menyusun lirik-lirik lagu dangdutnya.

Nuansa dakwah pun disematkan sebagai tema konsernya. Dari sekian jubel pertunjukan dangdut Rhoma Irama bersama Soneta, mayoritas pertunjukan tersebut bermuatan tema atau misi dakwah tertentu. Diantaranya, konser dengan tema utama pemantapan keimanan umat, penguatan ukhuwah islamiyah dan kebangsaan, penggalangan dana dari/untuk umat Muslim, kesetiakawanan sosial, penyuluhan-penyuluhan tertentu (semisal, kampanye antinarkotika, penyuluhan dan penyadaran kenakalan remaja serta bahaya pergaulan bebas), dan lainnya.

Dangdut Rhoma Irama juga bukan musik musiman. Dangdutnya sejalan dengan perubahan, problema, dan tantangan zaman. Terbukti dengan musikalitasnya yang terus bermutakhir dan liriknya yang kritis, berpesan moral nan kontekstual. Kata lainnya, dangdut Rhoma Irama bersemangat pembaruan. Laiknya Islam, yang selalu menuntut pembaruan demi menjawab pertanyaan umat di dalam kehidupan tiap-tiap zaman.

Sejalan dengan semangat pembaruan yang termaktub dalam lirik lagu, Rhoma Irama pun melakukan eksperimentasi, inovasi atau pembaruan juga dalam segi musikalitas. Proses pembaruan musik Melayu yang konvensional menjadi lebih berdinamika rock dilakukan Rhoma Irama secara bertahap. Mulai dari penggantian alat-alat musik konvensional musik Melayu (lama) dengan alat-alat musik elektrik. Menggunakan bentuk panggung yang lebih megah dengan tata lampu berkekuatan ratusan ribu watt, sistem suara berkekuatan puluhan ribu watt, hingga penggunaan asap panggung. Sedangkan dari segi penampilan, dengan tata busana yang walau mewah namun sopan, Rhoma Irama bersama Soneta berlaga di atas panggung secara teatrikal atau serempak saat bernyanyi. Hal ini tidak lain adalah pengutipan ciri-ciri penampilan panggung dunia musik rock.

Perjalanan dangdut Rhoma Irama bersama Soneta yang mengusung musik dakwah bukanlah sepak terjang musiman belaka. Terhitung sejak pertama kali sukses di blantika musik dengan album Begadang, Penasaran (1974-1975), Rupiah, Darah Muda (1975) Musik, 135.000.000 (1976), dan puluhan album lainnya (mulai dari album utuh, soundtrack film, singel, kompilasi, hingga aransemen ulang), Rhoma Irama bersama Soneta dari waktu ke waktu terus memassa hingga menjadi ikon budaya pop atau budaya massa di Indonesia terutama pada paruh kedua dekade 1970-an, sepanjang 1980-an pun sekitar 1990-an. Dangdut dan dakwah Rhoma Irama juga berkutat dan bergelut di panggung politik. Persebaran musik dan penampilan Rhoma Irama pun merambah pula ke panggung luar negeri, mulai dari Singapura, Brunei, Malaysia, Jepang, India, hingga Barat seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Ditambah lagi, Rhoma Irama bersama Soneta juga merambahi dunia film dengan sederet film-film musikal dangdut yang laris dan diperanutamakan olehnya serta diilustrasikan musik Soneta. Film musikal dangdut yang dimainkan Rhoma Irama mencapai 24 judul yakni: Penasaran (1976), Gitar Tua, Darah Muda (1977), Berkelana, Berkelana II, Begadang, Raja Dangdut (1978), Cinta Segitiga, Camelia (1979), Perjuangan dan Doa, Melody Cinta (1980), Badai Diawal Bahagia (1981), Satria Bergitar, Cinta Kembar (1984), Pengabdian, Kemilau Cinta di Langit Jingga (1985), Menggapai Matahari, Menggapai Matahari II (1986), Nada-nada Rindu (1987), Bunga Desa (1988), Jaka Swara (1990), Nada dan Dakwah (1991), dan Tabir Biru (1993). Kini, bersama putranya Ridho Rhoma, Rhoma Irama turut bermain dalam Dawai 2 Asmara (September 2010) dan Sajadah Ka’bah (November 2011).

Proyek pembaruan dalam musik dan materi lirik dangdut Rhoma Irama dimulai sejak paruh pertama 1970-an. Pembaruan tersebut terjadi pada jati musik Melayu. Peremajaan musik Melayu dilakukannya pada situasi dan kondisi dalam negeri tengah berubah, dari Orde Lama yang radikal-kiri dan kontra Barat menjadi Orde Baru pragmatis-kanan yang pro Barat. Peta politik ini berdampak domino masuknya unsur-unsur budaya populer Barat ke Indonesia, khususnya musik rock.

Implikasi negatif dari lancarnya budaya Barat yang ditelan mentah-mentah kawula muda, terutama di kota-kota besar di Indonesia, menjadikan mereka gemar hura-hura, mabuk-mabukan, menggunakan narkotika, pergaulan bebas, dan lainnya. Ingin bergaya Hippies, namun tidak mendapatkan akarnya. Sedangkan, pada separuh pertama dekade 1970-an, masyarakat musik Melayu-Dangdut pun terjadi degradasi estetis dan pemiskinan daya lirik berupa gejala erotisme dalam gerak di atas panggung dan vulgarisasi bahasa lirik yang melulu cinta dan mengisyaratkan ’aktualisasi’ cinta.

Padahal, pada era sebelumnya, 1950-an hingga 1960-an, dangdut yang masih disebut musik Melayu asal Deli atau Malaya, dikenal dengan lirik yang sopan dan bermuatan ajaran Islam dan tradisi Melayu. Antara lain dicontohkan oleh lagu-lagu P. Ramlee yang tidak sedikit mengajak orang berbicara ketauhidan. Begitu jua lagu-lagu Mashabi, seperti Renungkanlah, walaupun bertema cinta namun sopan.

Demi mengembalikan citra musik Melayu menjadi sopan dalam lirik dan penampilan serta menanggapi persoalan gejolak kaum muda kala itu yang berbudaya snobis, Rhoma Irama pun menggunakan syair berpetuah, argumentatif (dari kitab suci dan observasi), komunikatif, dan optimistik. Lirik yang berdaya demikian ditujukan bagi pengembangan mental umat. Lalu dari segi penampilan, Rhoma Irama berperilaku selaiknya seorang muslimin yang sopan nan kharismatik kala di atas pentas.

Ada keresahan dalam diri, doanya H Rhoma irama kepada Allah
“Yaa Rabb kalau bakat musik yang Engkau berikan kepada ku hanya memperlebar jalanku ke neraka tolong di cabut Yaa Rabb.
Namun jika musik ini membimbing dalam ke Ridho an Mu bimbing Aku Yaa Rabb.

Lirik lirik lagu nya H Rhoma Irama yang sangat inspiratif, Dan Insya Allah akan di buat juga disertasi nya dengan Judul
“Nilai nilai Dakwah Islamiyah dalam Syair lagu Rhoma Irama ” oleh Firdaus Turmudzi, Mahasiswa Program Doktor, S3 Fakultas Agama Islam, Universitas Islam As-syafiiyah ,beliau juga aktif di dunia pendidikan sebagai dosen di berbagai universitas seperti Uhamka, Sahid, Akademi Terapi Wicara, juga di Fahmi Tamami, lembaga Takmir masjid dan Mushola Bamus Betawi , anggota FKDM DKI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *