ISLAM ANTI RADIKALISME (Catatan Kajian Forum Tajug Kuring) Bagian III

ISLAM ANTI RADIKALISME (Catatan Kajian Forum Tajug Kuring) Bagian III

ZONAINDONESIA.ID- “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Lalu diberi-Nya kamu pendengaran, penglihatan dan hati, semoga kamu bersyukur”. Al-Qur’an surat 16 (An- Nahl) ayat 78.
“katakanlah: bahwa aku ini manusia seperti kalian. Namun aku diberi wahyu, bahwa Tuhanmu itu ialah Tuhan Yang Maha Esa! Karena itu tetaplah beribadat dan memohon ampunan kepada-Nya, dan celakalah orang-orang yang mempersekutukan-Nya”. Al-Qur’an surat 41 (Fush Shilat) ayat 6.

Semua Ahli Elektro tentu paham bagaimana sejarah listrik ditemukan Michael Paraday dan lampu pijar ditemukan Thomas Alva Edison, semua itu prosesnya terjadi secara alamiah. Artinya bisa dimengerti “Ilmiah Rasional” sehingga penggunaan energy listrik bisa terus dikembangkan sampai sekarang oleh para penerusnya. Dan kita pun tentu paham bahwa untuk bisa menemukan hal-hal seperti itu perlu kerja keras nalar yang maksimal dalam mengidentifikasi apa-apa yang awalnya samasekali tidak terpikir oleh orang lain.

Begitupun proses Kenabian Kerusulan Muhammad Bin Abdullah. Intinya akibat dipicu oleh seringnya mendengar, melihat dan merasakan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam kehidupan social terlebih yang erat menyangkut soal aturan-aturan hidup yang bertentangan dengan Fitrah Insan dan Kehidupan, yang menurut kesimpulan nalar beliau wajib ada upaya yang serius untuk merubah kondisi kehidupan manusia secara komprehensif.

Setelah mengidentifikasi kondisi social yang terjadi saat itu, maka beliau memutuskan untuk melakukan semedi di Goa Hiraa demi merapat pada Sang Pencipta Semesta berharap mendapat petujuak yang “Tepat Akurat” buat merubah peradaban gelap ke peradaban terang. Yang pastinya dalam masa semedi itu beliau bukan hanya berdo’a semata tapi semua alat yang telah diberikan Allah kepadanya seperti pendengaran, penglihatan dan hati, otomatis ketiga komponen tersebut menjadi wajib dikerahkan difungsikan semaksimal mungkin buat mendownload semua data-data ilmu Allah yang dzahir maupun yang gaib untuk diolah oleh akal supaya menjadi sebuah kesimpulan yang benar-benar meyakinkan.
“Sesungguhnya hewan yang paling buruk menurut pandangan Allah, ialah orang-orang yang pekak dan bisu yang tidak mengerti apa-apa”. Al-Qur’an surat 8 (An- Anfaal) ayat 22.
“Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam itu dari kebanyakan Jin dan Manusia. Mereka punya hati, tapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka punya mata, tapi tidak dipergunakan untuk melihat dan memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka punya telinga, tapi tidak dipergunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah.

Mereka itu seperti binatang, bahkan lebih sesat lagi. Meraka adalah orang-orang yang lalai”. Al-Qur’an surat 7 (Al-Araaf) ayat 179.
Goa Hiraa adalah Universitas Jibril yang sarat rahmat yang Memproses Membentuk diri Muhammad Bin Abdullah menjadi “Nabi dan Rasul” yang otomatis secara alamiah mengemban Visi Misi Nubuwwat yang sangat besar yaitu wajib merubah peradaban Jahiliyyah ke peradaban Islami atas perintah Allah SWT.

Berkat keberhasilannya yang tanpa cacat sedikitpun maka Allah SWT berfirman: “Innal laaha wa malaa-ikatahuu yushalluuna alan nabiyyi”.
Suatu ucapan penghormatan yang layak diungkapkan Sang Pencipta Semesta kepada seorang Nabi yang benar-benar Fathonah dalam mensyukuri (memfungsikan/memanfaatkan) semua “Energi Kholiq” yang terkemas dalam Fitrah Insan dan Kehidupan dengan baik dan benar dalam menegakan Hukum Allah di Muka Bumi. Itu bukti bahwa Universitas Jibril bukan hanya mengajarkan hapalan ayat-ayat Qur’an, tapi sekaligus dituntut wajib faham tentang semua makna yang terkandung di dalam semua ayat-ayat Qur’an demi untuk direalisasikan dalam kehidupan manusia seutuhnya.

Goa Hiraa adalah Universitas Jibril yang membersihkan jiwa Muhammad Bin Abdullah dari berbagai jenis kemusyrikan yang bersumber dari pikiran Iblis, yang pada waktu itu sedang kuat-kuatnya Mendominasi Mempengaruhi semua benak para penguasa serta para tokoh-tokoh akademisi juga kum seluruh umat manusia. Pikiran-pikiran Musyrik yang membuat kehidupan manusia benar-benar diliputi kegelapan.
Gelap dalam artian setiap apa yang diperbuat oleh para penguasa semakin menambah persoalan bukan memperbaiki keadaan. Jelasnya gelap dalam artian samasekali tidak mampu menemukan solusi untuk mengatasi kompleksitas masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia, yang ada justeru masalah demi masalah makin mengakumulasi laksana gumpalan awan hitam yang menutupi cahaya bintang diwaktu malam.

Karena itu maka peradaban waktu itu disebut peradaban jahiliyyah (kebodohan). Bodoh bukan berarti tidak bisa baca tulis, bukan berarti tidak tahu ilmu matematika, bukan berarti tidak tahu ilmu fisika dan atau sejarah para terdahulu, jelasnya bodoh bukan berarti tidak mampu membuat “Pesawat Ulang Alik”, akan tetapi “Jahil” dalam arti karena tidak faham tentang “Konsep Hidup” yang secara sistematis bisa menciptakan kehidupan manusia yang benar-benar aman nyaman tenteram sejahtera sensota.

Pendek kata bodoh dalam artian benar-benar buta tidak faham tentang sistem yang bisa menciptakan “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Gafhur”.
Goa Hiraa adalah Universitas Jibril merupakan sebuah tempat pelarian yang tepat bagi Muhammad Bin Abdullah dalam menolak semua Paradigma serta segala Teori yang diandalkan oleh para penguasa serta para tokoh-tokoh akademisi pada waktu itu dalam membangun hidup dan kehidupan manusia. Namun demikian, sebagai sosok yang Fathonah maka beliau pun tetap senantiasa bersosial bergaul “Loyal Etis” sehingga pandangan public tetap positif bahkan dicitrai sosok yang sangat Cerdas dan Terpuji, meski beliau selalu menjaga jarak untuk tidak terjerumus ke dalam kancah persengketaan yang selalu terjadi dilingkaran kekuasaan.

Jelasnya bahwa beliau senantiasa memproteksi diri untuk tidak terlibat ke dalam dunia perpolitikan yang secara Sunnatullah selalu pasti akan menimbulkan kegaduhan karena pasti akan saling berebut kekuasaan. Lagi pula alasan yang paling mendasarnya bahwa aturan-aturan Jahiliyyah itu bukan mesti di-Amandemen, di-Revisi dan atau di-Judicial Review, melainkan semua wajib dibuang sekaligus dengan sistem induknya. Atas alasan itu maka beliau menjadi lebih memilih untuk bergaul intens dengan Jibril demi mengasah mempertajam kecerdasan dalam membaca fitrah Insan dan Kehidupan yang sudah merupakan ketetapan Sang Pencipta Hidup.
Selain itu bahkan beliau lebih memilih untuk bersahabat dengan Jibril demi untuk memahami apa yang menjadi tujuan inti Allah dalam mencipta Semesta Seisinya. Berkat bimbingan Jibril maka beliau akhirnya faham tentang tujuan inti Sang Kholiq, maka lahirlah sebuah do’a yang sangat popular dengan sebutan Sapu Jagat; “Rabbanaa atinaa fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar”.
Terkait hal ini penting diketahui; bahwa Fathu Makkah itu adalah sebuah fakta sejarah yang merupakan bukti dari manifestasi Do’a Sapu Jagat Rasulullah Saw. Artinya menurut rasulullah bahwa do’a tersebut bukan hanya perlu diucapkan tapi wajib direalisasikan. Juga selain itu menurut beliau bahwa Do’a Sapu Jagat itu bukan hanya untuk kepentingan personal dan komunal, tapi demi untuk kepentingan seluruh umat manusia seutuhnya.

Dengan kata lain, bagaimana agar dengan do’a sapu jagat itu maka seluruh manusia secara global bisa menikmati kebaikan hidup dinuia dan di akhirat dengan jalan menterapkan Konsep Teologi (sistem Islam) dalam membangun hidup dan kehidupannya. Namun harapan itu hanya akan tercapai setelah umat manusia benar-benar faham tentang makna yang terkandung dalam do’a; “Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin”.
Fathu Makkah adalah pijakan awal rasulullah dalam menerangi kehidupan manusia seutuhnya. Dimana pencapaiannya bukan melalui pendekatan tajamnya Panah, Pedang dan Kelewang, tapi murni diraih dengan cara yang Benar Elagan Etis Logis serta sarat Edukasi karena Islam memang Anti Radikalisme. Betapa sangat paradoks sekali kalau upaya penegakan Islam malah menggunakan kekerasan. Itu artinya sama dengan merendahkan Eksistensi Allah SWT yang terkemas dalam kalimat “Bismil laahir rahmaanir rahiim”.

Radikalisme adalah paham yang mutlak bertentengan dengan “Asmaul Husna”. Karena radikalisme adalah paham yang bersumber dari Iblis yang merupakan klimak dari “Rasa Keprustasian Keputusasaan” akibat total buta tentang sistem yang baik “Kasyajaratin Thayyibatin” untuk membangun hidup dan kehidupan manusia. Atas alasan itu sehingga otomatis bagi Iblis dan para penganutnya tidak ada cara lain selain terpaksa menggunakan jalan pintas “Memaksa Meneror Mengintimidasi” dalam upaya meraih tujuannya.

Fathu Makkah adalah manifestasi dari sifat Shidiq Amanah Tablig Fathonah yang mengakar kuat dalam diri rasulullah. Karena itu penting diketahui; bahwa peradaban Jahiliyyah mustahil bisa dirubah dengan paradigma dan ataupun teori-teori iblis, selain hanya harus oleh kalimat “Bismillahi tawakaltu alallah la haula wa la kuwwata illa billahil aliyyul adziim”. Yang dipraktekan oleh Rasulullah dengan konsisten melakukan Tablig yang Shidiq, Tablig yang Amanah, juga Tabliq yang dilakukan dengan cara-cara yang Fathonah.

Dengan begitu sehingga terjadilah suatu Revolusi Ilmu yang secara sistematis merubah peradaban gelap ke peradaban terang yang faktanya tercatat kuat dalam sejarah Fathu Makkah.

Penutup
Semoga jadi bahan renungan; Sungguh mustahil metode yang bersumber dari paham Iblis bisa merubah peradaban Jahiliyyah ke peradaban Islami (perdaban gelap ke peradaban terang). Kenapa..? karena itu sama saja membasmi kebodohan dengan menggunakan runcingnya Badik Arit Clurit yang dihujamkan ke batang leher manusia dengan tujuan agar bisa berubah menjadi cerdas. Atau sebagai gambaran; kalaulah masalah kebodohan dirubah dengan cara-cara paham Iblis, maka kejadiannya pasti akan seperti hancurnya Hirosima dan Nagasaki oleh Bom Nuklir di akhir cerita perang dunia kedua. Yang sampai sekarang apinya terus semakin panas membara yang teraktualisasikan dalam semakin sengitnya persaingan ekonomi di dunia Internasional. Hal itu terjadi akibat semua Negara berambisi ingin menjadi yang terkuat, serta akibat senua Negara merasa penting untuk mempertahankan eksistensinya.
Diakui atau tidak ketatnya persaingan ekonomi yang terjadi di kancah Internasional sekarang ini jelas berdampak bertambahnya Si Miskin dan sekaligus makin beratnya beban hidup yang harus ditanggung mereka.

Disadari atau tidak persoalan kemiskinan yang menglobal sekarang ini otomatis akan sangat kuat pengaruhnya dalam merusak moral plus social yang terjadi secara sistemik.

Sampai-sampai sekarang alam menjadi sangat tidak bersahabat karena bencana nyaris terjadi disetiap Negara, hal itu akibat rusaknya ekosistem yang disebabkan oleh dahsyatnya pengaruh Sistem Jahiliyyah dalam merusak semua apa yang ada di daratan dan dilautan, akibatnya terpaksa lahir persoalan Global Warming yang secara alamiah justeru pasti akan menambah beratnya masalah (Azab).
Lebih ruwetnya lagi ditengah masa kacaunya kehidupan yang terjadi sekarang ini malah diperparah oleh lahirnya pergerakan-pergerakan “Radikalisme Ilegal” yang di cap sebagai Separatis Ektrimis Anarchistis dalam memperjuangkan apa yang menjadi ambisinya. Yang mana kelompok-kelompok Radikalisme Ilegal itu lahir merupakan Ekses dari sistem Jahiliyyah (Materialisme Monopolisme) yang saat ini secara De Fakto sedang disembah dianut oleh semua Negara di penjuru bumi.

Karena itu penting diketahui, bahwa kompleknya permasalahan yang terjadi sekarang ini merupakan bukti bahwa mustahil cara-cara yang lahir dari paham Iblis mampu merubah peradaban gelap ke peradaban terang. Atau jelasnya mustahil bisa merubah rusaknya Moral plus Sosial menjadi baik, yang pasti justeru akan semakin lebih kronis. Kenapa..?

Karena paham Iblis adalah suatu bentuk perwujudan dari klimaknya rasa “Keprustasian Keputusasaan” akibat saking benar-benar butanya terhadap Sistem yang baik yang pasti akan menjadi rahmat bagi sekalian alam yang bersumber dari Nur Sang Pencipta Hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *