KH M Yusuf Sholeh : Sebaiknya Makan Atau Minum Tidak Berdiri

KH M Yusuf Sholeh : Sebaiknya Makan Atau Minum Tidak Berdiri

ZONAINDONESIA.ID- Diantara Hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah makan dan minum sambil berdiri :
1- Dari Anas bin Malik RA, ia berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا
“Nabi SAW sungguh melarang dari minum sambil berdiri.”
(HR. Muslim no. 2024).
2- Dari Anas RA pula, ia berkata,
عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا
“Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau melarang seseorang minum sambil berdiri.”

3- Qotadah berkata bahwa mereka kala itu bertanya (pada Anas),:
“Bagaimana dengan makan (sambil berdiri)?”
Anas menjawab:
, “Itu lebih parah dan lebih jelek.”
(HR. Muslim no. 2024).
– Para ulama menjelaskan, dikatakan makan dengan berdiri lebih jelek karena makan itu membutuhkan waktu yg lebih lama daripada minum.
4- Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAaw bersabda,
لاَ يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِىَ فَلْيَسْتَقِئْ
“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri.
Apabila dia lupa maka hendaknya dia muntahkan.”
(HR. Muslim no. 2026)
5- dari Sa’ad RA
– وعن أبي سعيد أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم نهى عن الشرب قائما رواه أحمد ومسلم
Artinya:
“Dari Abu Said bahwa Nabi SAW melarang minum sambil berdiri,” (HR Ahmad dan Muslim).

6- dari Syu’bah dari Abu Ziyad, Hadits ini Ditarjih oleh imam Ahmad (7990) addarimi(2/121)ath-Athohawi.

– عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسّلَّمَ أَنَّهُ رَأٰٰى رَجُلاً يَشْرَبُ قَا ءِمًا فَقَالَ لَهُ : قِهْ ، قَالَ : لِمَهْ ؟ قَالَ : أَيَسُرُّكَ أَنْ يَشْرَبَ مَعَكَ الْهِرُّ ؟ قَالَ : لاَ ، قَالَ : فَاِنَّهُ قَدْ شَرَبَ مَعَكَ مَنْ هُوَ شَرُّ مِنْهُ ! أَالشَّيْطَانُ !!
“Dari Nabi , bahwa sesungguhnya beliau melihat seorang lelaki minum dengan berdiri.
Kemudian beliau bersabda kepadanya, “Muntahkanlah!” Orang itu bertanya: “Mengapa?”
Beliau bersabda: “Apakah kamu suka jika minum bersama dengan kucing?”
Orang lelaki itu menjawab: “Tidak.” Dia bersabda lagi: “Sesungguhnya telah minum bersamamu sesuatu yang lebih buruk daripada itu, yaitu setan.”
Disisi lain: Dari Ibnu ‘Umar RS, ia berkata,
كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ نَمْشِى وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ
“Kami dahulu pernah makan di masa Rasulullah SAW sambil berjalan dan kami minum sambil berdiri.”
(HR. Tirmidzi no. 1880 dan Ibnu Majah no. 3301.
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata,
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَشْرَبُ قَائِمًا وَقَاعِدًا
“Aku pernah melihat Rasulullah SAW minum sambil berdiri, begitu pula dalam keadaan duduk.”
(HR. Tirmidzi no. 1883)
Ibnu ‘Abbas RA berkata,
سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ قَائِمًا
“Aku memberi minum kepada Rasulullah SAW dari air zam-zam, lalu beliau minum sambil berdiri.”
(HR. Bukhari no. 1637 dan Muslim no. 2027)

Riwayat Imam Ahmad dan Imam Bukhori Mengisahkan Sayyidina Ali RA minum dalam posisi berdiri

– وعن الإمام علي رضي الله عنه أنه في رحبة الكوفة شرب وهو قائم قال إن ناسا يكرهون الشرب قائما وإن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم صنع مثل ما صنعت رواه أحمد والبخاري
Artinya:
, “Dari Imam Ali RA bahwa ia di satu lapangan di Kota Kufah meminum dalam posisi berdiri.
Ia berkata, ‘Banyak orang memakruhkan minum dalam posisi berdiri.
Padahal Rasulullah SAW melakukan apa yang kulakukan,’”
(HR Ahmad dan Bukhari).
Dalam hadits diatas diterangakan:
Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berdiri di tengah khalayak penduduk Kuffah.
Diambilnya sebuah bejana berisi air, kemudian ia minum sembari berdiri.
Spontan saja tingkah Ali menjadi sorotan orang-orang.
Apa pasal yang terjadi pada sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW itu.
Mengapa ia mempertontonkan kelakuan ghairu muaddib (kurang adab) karena minum sambil berdiri?
Ali pun bertutur, “Sebahagian orang tidak menyukai minum sambil berdiri.
Padahal, Nabi SAW pernah melakukan seperti yang telah aku lakukan ini.”
(HR Bukhari).
Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab Fath al-Bari karangannya menjelaskan, itulah yang dilakoni Ali bin Abi Thalib RA dalam mencegah kemungkaran.
Kemungkaran bukan hanya dalam konteks menghalalkan yang haram, melainkan juga mengharamkan yang halal.
Nahi mungkar bukan hanya pencegahan bagi orang yang akan melakukan perbuatan haram.
Sebaliknya, perbuatan yang sejatinya tidak haram tak boleh ada pencegahan untuk melakukannya.
Inilah yang ditegaskan Rasulullah SAW, “Siapa yang mengharamkan yang halal sama dengan orang yang menghalalkan yang haram.”
(HR Thabrani).
– Sayyidina Ali RA khawatir jika penduduk Kuffah menganggap minum dalam kondisi berdiri adalah terlarang.
Jika dibiarkan berlarut-larut, masyarakat awam akan meyakini perbuatan itu adalah haram.
Assyekh Ibnu Hajar mengatakan, hendaklah orang alim yang mengetahui hukum segera menjelaskan hukum persoalan tersebut sekalipun tidak diminta.
Menyikapi Dalil yang seakan bertentangan
Para ulama Ahli Fiqih sepakat dan tidak ada khilaf:
لا خلاف بين الفقهاء أنه يندب الْجُلُوسُ لِلأكْل وَالشُّرْبِ وَأَنَّ الشُّرْبَ قَائِمًا بِلاَ عُذْرٍ خِلاَفُ الأَوْلَى عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ
Artinya,:
“Tiada khilaf di kalangan ahli fiqih bahwa seseorang dianjurkan makan dan minum sambil duduk.
Tetapi minum sambil berdiri tanpa uzur menyalahi yang afdhal menurut mayoritas ulama,”
(Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz XV, halaman 270-271).
– Al Maziri rahimahullah berkata,
قَالَ الْمَازِرِيّ :
اِخْتَلَفَ النَّاس فِي هَذَا ، فَذَهَبَ الْجُمْهُور إِلَى الْجَوَاز ، وَكَرِهَهُ قَوْم
“Para ulama berselisih pendapat tentang masalah ini.
Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat boleh (makan dan minum sambil berdiri).
Sebagian lainnya menyatakan makruh .”
( Fathul Bari, 10: 82)
– Penulis ‘Aunul Ma’bud berkata,
وَقَدْ أَشْكَلَ عَلَى بَعْضهمْ وَجْه التَّوْفِيق بَيْن هَذِهِ الْأَحَادِيث وَأَوَّلُوا فِيهَا بِمَا لَا جَدْوَى فِي نَقْله ، وَالصَّوَاب فِيهَا أَنَّ النَّهْي مَحْمُول عَلَى كَرَاهَة التَّنْزِيه ، وَأَمَّا شُرْبه قَائِمًا فَبَيَان لِلْجَوَازِ، … مَعَ صِحَّة الْكُلّ .
“Sebagian orang bingung bagaimana cara mengkompromikan dalil² yg ada sampai² mentakwil sebagian dalil.
Yang tepat, dalil larangan dibawa ke makna makruh tanzih.
Sedangkan dalil yang menunjukkan minum sambil berdiri menunjukkan bolehnya.
… semua dalil yang menjelaskan hal tersebut shahih? ”
(‘Aunul Ma’bud, 10: 131)

– والمختار أن الشرب قائما بلا عذر خلاف الأولى للأحاديث الصريحة بالنهي عنه في صحيح مسلم وأما الحديثان الصحيحان عن علي وابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم شرب قائما فمحمولان على بيان الجواز جمعا بين الأحاديث
Pendapat yang kami pilih, minum sambil berdiri tanpa uzur menyalahi yang utama berdasarkan larangan pada hadits riwayat Imam Muslim. ”
– Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin, [Beirut, Al-Maktab Al-Islami: 1405 H], juz VII, halaman 340).
Al Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan,
وَالصَّوَاب فِيهَا أَنَّ النَّهْي فِيهَا مَحْمُول عَلَى كَرَاهَة التَّنْزِيه .
وَأَمَّا شُرْبه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا فَبَيَان لِلْجَوَازِ ، فَلَا إِشْكَال وَلَا تَعَارُض
“Yang tepat dalam masalah ini, larangan minum sambil berdiri dibawa ke makna makruh tanzih (bukan haram).
Adapun hadits yang menunjukkan Nabi SAW minum sambil berdiri, itu menunjukkan bolehnya.
Sehingga tidak ada kerancuan dan pertentangan sama sekali antara dalil² yg ada.”
(Syarh Muslim, 13: 195)
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan: “Permasalahan, Apakah dimakruhkan makan dan minum sambil berdiri.
Dan bagaimana jawaban hadits tentang hal itu?
– Maka jawabnya adalah dimakruhkan minum sambil berdiri tanpa ada keperluan dan tidak diharamkan.
Semenatara kalau makan sambil berdiri, kalau ada keperluan diperbolehkan.
Namun Kalau tidak ada keperluannya atau dhorurat maka itu menyalahi yang lebih utama, tidak dikatakan hal itu makruh.
Telah ada ketetapan dalam Shoheh Bukhori dari riwayat Ibnu Umar RA bahwa mereka melakukan hal itu.
Dan ini lebih didahulukan dibanding apa yg ada di Shoheh Muslim dari Anas bahwa beliau memakruhkannya.
Sementara minum sambil berdiri dalam shoheh Muslim sesungguhnya Nabi SAW melarang hal itu.
Dan dalam Shoheh Bukhori dan lainnya hadits² shoheh bahwa Nabi SAW melakukannya.
Maka hadits-hadits larangan itu menunjukkan makruh tanzih (lebih baik ditinggalkan) sementara hadits prilaku beliau menunjukkan tidak diharamkan.”
(Fatawa Nawawi, 105.)
Praktik makan dan minum sambil berdiri boleh dilakukan hanya saja Khilaful aula(menyalahi yang lebih utama.
Karenanya makan dan minum sambil duduk itulah yang lebih utama.:
ويجوز الشرب قائماً، والأفضل القعود

Artinya:
, “Minum sambil berdiri boleh. Tetapi afdhalnya minum dilakukan sambil duduk,”
( Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz III, halaman 536).
Dan adapun Nabi SAW minum zam-zam sambil berdiri menunjukkan kebolehannya hal itu.
Sebagaimana dikatakan Al Bajuri dalam Hasyiyah Asy Syamail,
– وإنما شرب (ص) وهو قائم، مع نهيه عنه، لبيان الجواز، ففعله ليس مكروها في حقه، بل واجب، فسقط قول بعضهم إنه يسن الشرب من زمزم قائما اتباعا له
Nabi SAW pernah minum sambil berdiri.
Padahal di sisi lain beliau melarangnya.
Perbuatan minum sambil berdiri tadi menunjukkan kebolehannya.
Jadi yang beliau lakukan bukanlah makruh dari sisi beliau, bahkan wajib (untuk menjelaskan pada umat akan bolehnya).
Sehingga gugurlah pendapat sebagian orang yang menyatakan disunnahkan minun air zam-zam sambil berdiri dalam rangka ittiba’ (mencontoh) Nabi SAW
(Dinukil dari I’anatuth Tholibin, 3: 417)
______________
Mohon koreksinya jika ada khilaf
– HM.Yusuf Soleh –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *