ISLAM ANTI RADIKALISME (Catatan Kajian Forum Tajug Kuring) Bagian II

ISLAM ANTI RADIKALISME (Catatan Kajian Forum Tajug Kuring) Bagian II

ZONAINDONESIA.ID- Shidiq; setiap apa yang beliau ucapkan selalu benar. Tidak menyalahi apa yang telah ditetapkan Allah sebagai Sumber Ilmu dan Hukum. Bobot kebenarannya susah dibantah logika dari berbagai arah serta sulit dipungkiri hati dari berbagai lini, alhasil fakta-fakta Ilmiahnya mustahil terbantahkan. Entah itu ucapan beliau yang terkait soal semua aturan hidup maupun semua hal yang dianggap penting bagi hidup dan kehidupan manusia.

Dengan begitu sehingga setiap apa yang beliau ucapkan otomatis selalu berbuah “Keilmuan Keyakinan yang Absolut Abadi”.

Amanah; semua data-data ilmu Allah yang Nampak maupun yang Tersembunyi, yang Konkret maupun yang Abstrak, atau yang Dzahir maupun Gaib, yang sangat penting bagi hidup dan kehidupan manusia, terlebih yang erat menyangkut soal Keilmuan Keyakinan, maka semua data-data itu beliau sampaikan seutuhnya tanpa dilebihi juga tidak pula dikurangi (Obyektif). Fakta-fakta tentang Kejujuran beliau itu bisa diuji dibuktikan oleh logika siapa saja lewat Ayat-ayat Kauniyah yang tercatat kuat dalam Realita.

Kalau boleh saya umpamakan sifat Amanah beliau itu ibarat pegawai POS yang selalu mengantarkan barang titipan dalam kondisi utuh pada alamat yang dituju. Namun jangan salah paham itu hanya sebuah contoh, sebab Rasulullah bukan pengusaha ekspedisi jasa pengantar barang. Juga Rasulullah itu bukan seperti Menkeu yang menampung keuangan Negara dan yang menentukan kebijakan fiskal. Sekali lagi bahwa pengertian amanah Rasul itu adalah jujur dalam menyampaikan semua data-data ilmu Allah yang Dzahir maupun yang Gaib dengan tanpa dilebihi dan dikurangi.

Tablig; setiap apa yang beliau ceramahkan akurasinya selalu tepat sasaran sehingga pesannya benar-benar sampai. Yang sudah barang tentu sesuai kadar intelektual si pendengar. Tapi intinya bahwa setiap apa yang beliau ceramahkan konklusinya selalu pasti bisa diterima logika serta diyakini hati. Dengan kata lain ceramahnya tidak Samar, tidak Abu-abu alhasil tidak Membingungkan Memusingkan benak-benak para pendengar.
Terlebih terkait aturan-aturan hidup, satupun tidak ada yang tumpang tindih, tidak ada yang paradoks atau kontradiksi, bahkan satu sama lain saling mengokohkan persis sekokoh Kontruksi Hukum yang mewujud dalam bangunan alam semesta seisinya.

Sehingga setiap apa yang beliau ceramahkan nilainya sama dengan kalimat “Innal laaha qawiyyun aziz” sesungguhnya Allah itu Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

“Yang telah menciptakan tujuh petala langit bertingkat-tingkat di angkasa luas. Tidak akan terlihat olehmu pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih itu suatu kejanggalan. Coba lihat sekali lagi! Adakah kamu melihat sesuatu yang janggal..?

Lalu coba lihat berulang-ulang! Niscaya yang kamu lihat itu seperti yang tadi juga tanpa menemuai sesuatu cacat, kendati pun penglihatanmu sudah lesu (payah)”. Dalam artian cape karena terus menerus mencari kejanggalan (kelemahan) yang mustahil ditemukan. Al-qur’an surat 67 (Al-Mulk) ayat 3-4.

Pendek kata bahwa pola ceramah beliau itu benar-benar mudah dicerna ibarat makanan yang Renyah, tidak berbelit-belit karena memang sengaja agar tidak memberatkan kerja otak-otak umat terlebih bagi Si Awam. Dan itu merupakan bukti bahwa beliau memang Suhu dalam bidang Ilmu Komunikasi Publik.

Dengan begitu sehingga otomatis semua apa yang diceramahkan beliau terlebih yang terkait semua aturan hidup menjadi mutlak bisa tetap dijadikan patokan yang sangat kokoh bagi manusia dalam membangun kehidupan antar sesama begitupun dalam menjalin hubungan ritual dengan Sang Pencipta Semesta.
Fathonah; setiap apa yang beliau lakukan selalu berstrategi dengan tujuan supaya apa yang menjadi Visi besar tentang kerasulannya benar-benar mutlak selesai tanpa cacat sedikitpun. Sifat Fathonah adalah senjata Super Canggih Rasulullah dalam membongkar “Tabir-tabir Kegaiban” demi untuk menterapkan cara yang Tepat, yang Benar, yang Elegan, yang Etis, Logis, Legitimit serta yang sarat Edukasi dalam memperjuangkan tegaknya Diinullah (Sistem Islam) di Muka Bumi.

Alhamdulillah berkat pola perjuangan yang benar-benar pas sesuai “Fitrah Insan dan Kehidupan” maka wajar dan bahkan sudah sewajibnya kalau akhirnya Allah SWT berfirman: “Yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu alaikum ni’matii wa radhiitu lakumul islaama diinan” Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku dan Aku telah rela Islam menjadi aturan hidupmu (agamamu).

Al-Qur’an surat 5 (Al Maidah) ayat 3.
Empat sifat yang dimiliki Nabi Rasul seperti di atas itu tidak ujug-ujug kuat mengakar dalam diri beliau, tapi tumbuh secara alami berkat Soliditas Sinergitas kinerja Aqlun dan Qalbun dalam membaca meraba serta mengolah semua data-data ilmu Allah yang Dzahir dan yang Gaib ketika mencari “Nur Illahi demi untuk menerangai kehidupan umat manusia seutuhnya.

Awalnya semua data-data ilmu itu diserap oleh Benak lewat Pendengaran, penglihatan dan perasaan, lantas diproses dikunyah oleh Akal selembut mungkin sampai tinggal menjadi “Saripati” yang menjelma membentuk suatu “Kesimpulan” yang sangat kokoh, kemudian disodorkan oleh Logika kepada benak-benak khalayak dengan argumentasi yang mustahil terbantahkan. Yang mana Saripati itu terkemas dalam kalimat “Laa ilaaha illallah Muhammad darrasulullah”.
Artinya untuk mewujudkan dua kalimat syahadat itu tidak semudah apa yang kita bayangkan.

Bukan seperti kue bolu terlejat yang disodorkan dengan tampan siap santap. Prosesnya wajib ditempuh oleh kerja keras Nalar yang sangat melelahkan dalam menjelajahi ruang kegelapan demi kegelapan dengan berbekal kesucian pikiran. Tanpa kesucian jiwa mustahil saripati Qur’an terpetik diri, “Laa yamassuhuu illal muthahharun”.

Al-Qur’an surat 56 (Al-Waqi’ah) ayat 79. Dua kalimat syahadat adalah sebuah “Kesimpulan Maha Besar” yang mesti didukung argumentasi yang benar-benar kokoh sehingga mutlak layak bahkan wajib dijadikan Pedoman Pegangan bagi seluruh umat manusia dalam membangun hidup dan kehidupan.

Dua kalimah syahadat adalah “Energy Inti Gaib” senjata andalan Akal untuk menegasikan semua bentuk pikiran-pikiran Najis (Musyrik) bersumber dari Iblis yang membuat kehidupan seluruh umat manusia menjadi penuh diselimuti berbagai masalah.

Sebagaimana dengan tekadnya Iblis sungguh telah berjanji: “Qaala fabi’izzatika la-ughwiyanahum ajma’iin”, demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka (manusia) semuanya. Al-Qur’an surat 38 (Shaad) ayat 82.

Karena itu bagi Rasulullah dua kalimat syahadat bukan hanya terus dibaca berulang-ulang tapi nyata telah direalisasikan lewat fakta sejarah Fathu Makkah. “Innaa fatahnaa laka fat-ham mubiina”, sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Al-qur’an surat 48 (Al Fath) ayat 1.
Merupakan langkah awal Rasulullah dalam menerangi kehidupan masyarakat dunia yang tadinya penuh diselimuti kegelapan. Akibat membuat sistem tandingan, yang dalam artian karena selalu Menyembah Menganut Sistem Jahiliyyah (Materialisme Monopolisme) yang menjadi sumber penyebab tiap-tiap Negara berupaya berambisi ingin menjadi yang terkuat demi agar bisa Memonopoli Mengeksploitasi Mengeksplorasi SDA Negara-negara lemah.

Sistem yang menyebabkan tiap-tiap Negara menjadi seperti Raksasa yang perutnya tidak pernah kenyang, yang mustahil akan merasa puas meski telah memiliki sejuta rudal dan seribu pesawat siluman. Semua merupakan senjata pembunuh perusak hanya karena demi untuk mengais rejeki serta demi untuk mempertahankan eksistensi dinasti penguasa.

Apakah perilaku seperti itu tidak bisa disebut Manifestasi Radikalisme..?
Sekarang lantas apa perbedaan Isaac Newton dengan Muhammad Bin Abdullah dalan soal penemuan hukum alam (Sunnatullah)..? nyaris semua ahli fisika suka mengatakan bahwa Rincian Rumus Gravitasi yang ditemukan Isaac Newton itu senantiasa disebut “Hukum Newton”. Artinya dalam hal ini jelas terlihat seperti adanya pengklaiman bahwa hak ciptanya itu seolah-olah Newton. Sama seperti yang lainnya yaitu “Hukum Boyle, Hukum Archimedes, Pythagoras dst”, semua peristilahan itu terkesan telah melakukan pengklaiman.
Beda dengan Muhammad Bin Abdullah, beliau tidak pernah mengklaim bahwa apa yang ditemukan dan diyakini oleh dirinya itu adalah karya ciptanya, akan tetapi senantiasa beliau katakan bahwa semua itu adalan “Wahyu dari Allah”, alhasil selalu dikembalikan pada Pemilik Pencipnya.

Dengan begitu sehingga tidak mucul istilah “Hadist Muhammad atau sunnah Muhammad”, tapi yang layak lahir itu adalah istilah “Hadist Nabi dan atau Sunnah Rasul”.
Begitupun soal Islam. Tidak ada dalam ajaran Islam istilah Hukum Muhammad, yang ada adalah Hukum Allah dan atau Sistem Islam.

Karena Islam memang bukan produk Muhammad. Kalau dalam Al- qur’an ada ayat yang mengatakan; “Wa radhiitu lakumul islaama diinan”, maka pengertian kata “kum” menurut ilmu shorof disitu artinya “Jamak atau Banyak” (umum). Sehingga pengertian “agama-Mu” disitu bukan hanya ditujukan pada diri Nabi Muhammad tapi artinya untuk kepada semua orang bersifat umum.

Pendek kata bahwa pengertian “agama-Mu” disitu bukan berarti Allah SWT telah ridho Islam disebut sebagai “Ajaran karya Muhammad”, tapi Allah SWT sungguh telah meridhoi bahwa Islam benar-benar layak dan wajib untuk dijadikan aturan hidup bagi Nabi kum dengan seluruh penganutnya serta semua manusia seutuhnya.

Persoalan ini seperti terlihat spele, tapi kalau kita kembali pada soal “Teologi”, jelas hal-hal seperti itu merupakan sesuatu yang sangat penting demi untuk menjaga kesucian Hati serta untuk memperkokoh keyakinan diri pada Eksistensi Sang Pencipta Hidup. Intinya sebagai pemikir yang Fathonah maka sudah pasti Muhammad Bin Abdullah akan senantiasa menjaga kesucian kenabiannya dan kerasulannya. Dua istilah tersebut memiliki arti yang sangat dalam. (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *