ISLAM ANTI RADIKALISME

ISLAM ANTI RADIKALISME

ZONAINDONESIA.ID-
(Catatan Kajian Forum Tajuk Kuring)
Bagian I
Audzu Billahi Minasy Syaitaani Rajiim “Aku berlindung pada Allah dari setan yang terkutuk”. Akal bukan alat untuk memproduk Hukum (Aturan/Sistem). Akal dicipta dianugerahkan Sang Khaliq pada manusia supaya bisa Mencari Menemukan Memahami Meyakini serta Mentaati “Hukum-hukum Hidup” yang jauh telah lebih dulu ada sebelum Akal ada.

Manusia hadir tercipta di Muka Bumi setelah segala sesuatunya lengkap tersedia, apa yang menjadi kebutuhan Materi dan Imateri. Begitupun soal aturan yang mencakup “Segala Urusan”, semua lengkap tidak kurang sesuatu pun. Karena itu Akal tidak perlu repot-repot lagi membuat aturan (hukum/sistem) daripada malah jadi bikin “Tandingan”. Sampai kapan pun mustahil manusia bisa menang (berhasil), yang ada malah pasti semua menjadi berantakan.

Rusaknya kehidupan social yang terjadi secara Masiv Sistemik Mengglobal sekarang ini adalah suatu konsekwensi karena manusia nyata telah membuat “Sistem Tandingan” dalam mengurus kehidupannya. Sistem yang menjadi pemicu pecahnya perang antar Negara karena berebut soal materi, berebut soal wilayah perbatasan. Sistem yang menjadi pemicu tiap-tiap Negara berupaya ingin menjadi yang terkuat. Sistem yang menjadi pemicu terjadinya persengketaan antar saudara sebangsa karena saling berebut kekuasaan. Sistem yang menjadi pemicu lahirnya para Separatis serta para Teroris. Sistem yang menjadi pemicu lahirnya praktek-praktek radikalisme dalam mengejar apa yang menjadi ambisinya. Itu semua adalah bentuk pengeksekusian Hukum Hidup (Azab Allah) pada sistem “Materialisme Monopolisme” yang sekarang ini sedang “Disembah Dianut” oleh semua Negara di penjuru bumi.
Islam adalah Diinullah Diinul Haq Diinul Qaayyim intinya adalah Diinul Hayyin (Hukum Hidup) yang lahir seiring dengan penciptaan semesta seisinya.

Dengan kata lain artinya bahwa semesta seisinya ini tidak menjelma “Tanpa Sebab” tapi Tercipta Terbangun atas “Kontruksi Hukum Yang Islami”. Itulah yang menjadi alasan sehingga Islam mutlak dinyatakan Ajaran Keyakinan yang pasti menjadi Rahmat Bagi Sekalian Alam (Rahmatan Lil Aalamiin).
Serta atas alasan itu pula maka Islam tidak bisa disebut Ide dan atau Gagasan. Namun demikian Islam memang bisa disebut Ajaran tapi bukan Ajaran Hasil Produk Nalar, juga bukan pula lahir atas dorongan Hawa Nafsu (Ambisi). Pendek kata Islam adalah “Nurullah (Cahaya Allah)” yang bukan datang dari Timur juga bukan pula datang dari Barat “Laa Syarqiyyatin Wa La Gharbiyyatin”.

Kalaulah pada waktu dulu Muhammad Bin Abdullah dengan Ajaran Islamnya memerintahkan kepada segenap manusia supaya berbuat baik dan melarang berbuat jahat, atau menyuruh supaya memakan makanan yang halal dan melarang memakan makanan yang haram, semua aturan-aturan itu samasekali bukan lahir dari Ide atau Gagasan Muhammad, tapi itu adalah suatu “Ketetapan Hukum Hidup” yang Ditemukan Dipahami serta Diyakini oleh diri seorang Nabi.

“Demi bintang bila telah tenggelam. Muhammad temanmu itu tidak sesat dan tidak pula keliru. Dia tidak berkata semaunya menurut hawa nafsunya. Yang diucapkan itu hanyalah wahyu semata. Yang diajarkan oleh Jibril yang sangat kuat. Yang akalnya sangat cerdas, lalu ia menjelma dengan rupa yang sebenarnya. Dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat kapada Rasul, dan semakin bertambah dekat. Maka jaraknya kira-kira sejarak dua ujung busur panah, atau bahkan lebih dekat lagi dari itu. Lalu Jibril menyampaikan wahyu kepada hamba-nya (Muhammad) sebagaimana apa yang telah Allah wahyukan”. Al-Qur’an surat 53 (Najm) ayat 1-10.

Jibril hadir menghapiri beliau di Goa Hiraa itu bukan datang serta merta, tapi datang secara alami atas “Ijin Allah” akibat diundang oleh klimaknya rasa kegalauan seorang calon Nabi dan Rasul yang punya tingkat kecerdasan yang sangat luar biasa. Serta yang hatinya benar-benar “Suci Steril dari berbagai Penyakit”. Jibrir hadir diundang oleh harapan yang sangat kuat dari seoarang calon Nabi dan Rasul yang ingin mendapat petunjuk dari Sang Pencipta Hidup demi untuk merubah kehidupan yang Serba Gelap ke kehidupan yang Serba Terang “Litukhrijan naasa minazh zhulumaati ilan nuuri”.

Jibril malaikat penyampai wahyu yang mustahil hadir ketika diundang oleh hati yang berpenyakit serta pikiran yang picik licik dan kotor. Dia adalah “Ruhul Kudus” yang membawa pesan sangat berharga bagi Rasul supaya disampaikan kepada segenap manusia. Isinya adalah Kabar Gembira dan Ancaman (peringatan). Gabar kembira dalam artian “Solusi” untuk mengeluarkan manusia dari peradaban jahiliyah ke peradaban Islami. Ancaman dalam artian jika tetap membangkang tidak mau meninggalkan sistem yang dijadikan tuhannya, maka “Azab Allah” secara alami pasti akan terus menimpa bahkan bisa berlipat ganda.

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada rasul yang mulia. Ia bukan gubahan ahli sya’ir! Sedikit sekali kamu yang beriman kepadanya. Dan Al-Qur’am itu bukan pula mantera-mantera tukang tenung! Sedikit sekali kamu yang mengambil pelajaran dari padanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Andaikata Muhammad itu membuat-buat perkataan batil atas nama Kami (Allah), walaupun sebahagiannya, niscaya Kami ikat persendiannya, kemudian Kami potong urat lehernya. Tidak ada seorang pun diantara kamu yang dapat mencegahnya”. Al-Qur’an surat 69 (Al-Haqqah) ayat 40-47.

Semua ahli Fisika tentu tidak asing dengan nama Isaac Newton. Dia bukan pencipta Hukum Gravitasi tapi sebagai penemu Rincian Rumus Gravitasi. Kenapa saya katakan penemu..? karena Hukum Gravitasi adalah Sunnatullah yang jauh telah lebih dulu ada sebelum Newton lahir. Bahkan dulu sebelum Newton lahir maka neneknya kalau jatuh pasti ke bawah, kenapa..? karena itu sudah merupakan ketetapan “Hukum Allah” (Sunnatullah/Hukum Alam).
Sebagai seorang pemikir dalam bidangnya, pasti Newton tidak akan bicara sembarangan. Karena dia pun tentu akan sangat menjaga refutasinya. Contoh sederhana; mustahil Newton akan mengatakan; “Kelinci akan lebih cepat meluncurnya daripada Gajah ketika jatuh dari atas tebing secara bersamaan”. Kenapa Newton mustahil akan mengatakan hal seperti itu..? karena itu adalah perkataan yang “Batil (salah)” menurut Hukum Gravitasi.
Begitu juga Muhammad Bin Abdullah. Sangat mustahil sebagai Nabi dan Rasul Allah akan bicara ngawur soal Islam. Yaitu suatu ajaran keyakinan yang menjelaskan tentang semua aturan-aturan hidup secara “Komprehensif” demi untuk menyelamatkan umat manusia Dunia dan Akhirat.

Gelar Kenabian beliau itu bukan suatu pengklaiman yang bersifat sepihak, tapi itu murni terproses secara alami sehingga Gelar Kenabian beliau itu benar-benar legitimit, yang dalam arti sah diakui serta dibenarkan oleh logika segenap manusia terlebih oleh para pemikir yang hati-hatinya bersih dari penyakit. Dan empat sifat yang dimiliki beliau seperti Shidiq Amanah Tablig dan Fathonah, itu bukan sifat Muhammad Bin Abdullah, tapi itu adalah syarat bagi kriteria seorang Nabi dan Rasul. Dan semua syarat itupun bukan lahir atas “Rekayasa yang penuh Kamuflase” tapi murni terbentuk secara alami oleh Hukum Hidup itu sendiri. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *