ANDA MAU JADI PEMENANG ATAU PECUNDANG? BERTEMPURLAH YANG DIDASARI ILMUNYA

ANDA MAU JADI PEMENANG ATAU PECUNDANG? BERTEMPURLAH YANG DIDASARI ILMUNYA

ZONAINDONESIA.ID- Pertempuran bukan dilihat dari berapa banyak Jumlah pasukan serta kecakapannya, kecanggihan Alutista maupun Logistik namun Kuncinya ada di STRATEGI yang merupakan paduan Kemampuan Pikiran, Pengolahan Rasa dan Pengalaman. Saya lebih senang mengatakan seperti yang di sampaikan oleh pakar strategi Tsunzu “100 kali bertempur dengan 100 kali kemenangan, jauh lebih baik kemenangan tanpa pertempuran” . Bukan menganalogikan diri adalah pengecut yang tidak berani fight di medan pertempuran tapi justru disini sebuah cara men_direct pikiran menjadi kekuatan yang dahsyat.Teringat saya berdiskusi panjang dengan Jendral Purn Wiranto yang sekarang berposisi sebagai Kepala Wantimpres, hal yang jarang di resapi kenapa pak Wiranto di era Orba hingga saat ini selalu berada di tampuk kekuasaan? Beliau membuka obrolan panjang berkali-kali dengan saya diantaranya mengatakan, dalam melakukan keputusan pertempuran perlu dipahami dan di dalami resepnya yaitu diantaranya CUMEMU (Cuaca,Medan dan Musuh) . Tentu kalau saya kupas soal itu sangat panjang. Maka kalau dalam dirasah Islamiah di sebut Syiasah /gozzul fikri kalau dalam teori umum di sebut Manajemen strategic.

Management Strategi adalah seni mengelola dan ilmu merumuskan, melaksanakan, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang memungkinkan untuk mencapai tujuan. Didalam bagiannya kita akan menemukan Konflik baik internal maupun ekternal hingga ada rentetan peristiwa yang sungguh bisa enjoy di jalani, karena ada proses perpaduan rasa, situasi dan logika. itulah pentingnya memahami metodologi Manajemen Konflik.

Manajemen adalah seni pengelolaan untuk mengatur sebuah organisasi atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan konflik adalah proses dua orang atau lebih yang melakukan tindakan kontraproduktif untuk menyingkirkan orang lain. Jadi, manajemen konflik adalah sebuah pendekatan yang dilakukan serta diarahkan untuk komunikasi dengan pelaku konflik. Yang mana pelaku konflik dapat memengaruhi kepentingan bersama suatu organisasi atau kepentingan-kepentingannya.

Sedangkan menurut salahsatu ahli manajemen yaitu Howard Ross, manajemen konflik adalah langkah yang diambil pihak ketiga dengan tujuan mengarahkan konflik ke hasil tertentu yang mungkin/tidak menghasilkan hasil akhir berupa penyelesaian konflik atau mungkin/tidak menghasilkan ketenangan atau hasil mufakat.

Tipe Manajemen Konflik yang Harus Di Ketahui
Dalam manajemen konflik ada beberapa tipe yang digunakan untuk menyelesaikan konflik yang ada, ada enam macam tipe manajemen konflik, yaitu :

Acomodating
Acomodating merupakan usaha yang dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai pendapat pihak yang terlibat konflik. Nantinya, akan digunakan untuk musyawarah atau menyelesaikan konflik tersebut. Namun, tetap mementingkan kepentingan dari salah satu pihak. Hal ini dapat merugikan salah satu pihak yang berkonflik.

Avoiding
Avoiding adalah sebuah upaya untuk menghindari sebuah konflik agar tidak terlibat di dalamnya. Hal ini menjadi cara yang efektif agar lingkungan terhindar dari konflik.

Compromising
Berbeda dari acomodating, cara ini lebih memerhatikan kepentingan bersama. Dengan mendengarkan pendapat dari semua pihak dan memutuskan jalan keluar dengan tetap mementingkan kepentingan bersama menjadi cara yang adil bagi semua pihak. Cara ini akan memberikan solusi bagi semua pihak. Ada 4 bentuk kompromi yaitu separasi, atrasi, menyogok, dan mengambil keputusan secara kebetulan.
Separasi artinya pihak yang terlibat konflik dipisahkan untuk menyelesaikan konflik yang ada.
Atrasi artinya pihak yang berkonflik setuju dengan keputusan yang diambil pihak ketiga atau penengah.
Mengambil keputusan berdasarkan faktor kebetulan, dengan cara ini bisa dilakukan dengan hal-hal yang sederhana tapi tetap berpegang pada aturan yang berlaku.
Menyogok merupakan memberikan imbalan untuk pihak yang mengambil keputusan dengan tujuan pihaknya dapat dimenangkan dalam konflik tersebut. Hal ini mungkin curang, tetapi bergantung pihak masing-masing yang menyelesaikannya.

Colaborating
Colaborating merupakan cara menyelesaikan konflik dengan bekerja sama yang hasilnya memuaskan semua pihak. Semua pihak akan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah dengan tetap memerhatikan kepentingan bersama.

Competing
Competing adalah cara yang digunakan dengan mengarahkan pihak yang terlibat konflik bersaing dan memenangkan kepentingan masing-masing pihak. Cara ini pastinya tidak akan memberikan solusi bagi kedua belah pihak dan yang pasti ada kalah ada yang menang.

Conglomeration
Conglomeration merupakan kombinasi atau campuran menyelesaikan konflik dengan cara menggabungkan lima tipe di atas. Tentunya cara ini akan lebih memakan banyak waktu dan tenaga
Jika Upaya enam langkah sudah dilakukan secara maksimal tetapi konflik terus terjadi atas kehendak yang memaksa, walhasil terpaksa kita harus melakukan langkah ekstrim yaitu dengan pola Cutting, atau peribahasa sunda “Peuncit Kuriling) yaitu memotong alur personal yang dianggap benalu penting dalam mengganggu proses negosiasi.
Tinggalah pada kesimpulan, Ujung dari sebuah pertempuran adalah Negosiasi. Pertanyaannya apakah Negosiasi itu akan di lakukan sebelum bertempur, sedang bertempur atau setelah bertempur ? Hal ini nanti saya kupas pada kesempatan berikutnya.
Wallohu a’lam

Limbangan, 2 Januari 2020
#AaNasir
Catatan Penulis
: Aceng Ahmad Nasir, S.Ag.,MA

-SDN Limbangan Timur III Garut
-SMPN I Limbangan Garut
-SMAN 36 Jakarta
-FAI- UIA Jakarta
– Pasca Ommu Durman University, Sudan Afrika Utara
– Pasca STIAMI Jakarta
– S3 UNIV.BRAWIJAYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *