AL HABIB JA’FAR AL KAFF KEBIASAANNYA MEMBUANG UANG PULUHAN JUTA, RATUSAN JUTA, HINGGA MILYARAN DIBUANG KE LAUT…

AL HABIB JA’FAR AL KAFF KEBIASAANNYA MEMBUANG UANG PULUHAN JUTA, RATUSAN JUTA, HINGGA MILYARAN DIBUANG KE LAUT…

Nama Beliau adalah Habib Ja’far Bin Muhammad bin Hamid bin Umar Al Kaff dari Semarang.

Rumah kediaman Abah Beliau di desa Dema’an kota Kudus.

Beliau adalah seorang Wali Allah dan Maqomnya adalah Majdub.

Beliau seorang Wali Allah yang Khoriqul Adah. Kebiasaannya membuang Uang Puluhan Juta, Ratusan Juta hingga Milyaran dibuang ke Laut.

Yang Membimbing Beliau adalah Nabiyullah Khidir Balyan bin Malkan.

Al Habib Ja’far Al Kaff terkenal memiliki kebiasaan Jadzab (Berbuat aneh). Meskipun Jadzab, ternyata Beliau sering juga Mernahake (Bahasa Salik nya adalah Mentarbiyyah/Membimbing) para Muhibbin (Pecinta) Beliau.

Dikisahkan bahwa pernah salah seorang Muhibbin dipanggil Beliau dan dikasih uang
“Ji, ini Duit buat kamu…Buat beli Fortuner, ya?”.

“Njih, Bib”, kata Pak Kaji sambil menghitung jumlah uang pemberian Habib dan ternyata jumlahnya cuma 400 ribu rupiah.

Melihat uang pemberiannya dihitung, Habib Jakfar berkata :
“Jangan dihitung Ji…Harus ikhlaaas”.

Ini pelajaran pertama dari Habib Ja’far, bahwa Pemberian Allah baik berupa uang ataupun harta yang lain tidak boleh dilihat materi /barangnya. Juga jangan dilihat berapa jumlahnya, tetapi lihatlah siapa gerangan Dzat yang memberinya…Yakni Allah Swt Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Saputangan harganya murah, tetapi saputangan pemberian Kekasih, tidak ternilai harganya.

Beberapa waktu kemudian, Habib Ja’far mengajak pak Kaji ke tepi Laut dan berkata :
” Jii, ini duit dalam tas…Ayo semua dibuang ke Lauuut. Diniati Shadaqah Sir/Rahasia, yaa? Diniati Shadaqah Sir yaa?”.

Bersama salah satu khadim/pembantu, pak Kaji tersebut membuang lembaran-lembaran uang ke Laut. Dia perkirakan tidak kurang dari 20 juta rupiah uang yang dibuang.

Muhibbin itu berpikir keras apa makna perbuatan ini, serta apa konteknya dengan dirinya?
Ini pelajaran kedua untuk dirinya, bahwa bagi seorang Arif Billah, antara Uang dan Tanah Liat nilainya tidak ada bedanya .

Yang membuat berbeda adalah Kecintaan Hati kepada salah satu dari keduanya. Jika tidak ada Cinta, (Karena yang di Cinta Hanyalah Allah Ta’ala) Emas, Uang atau yang lain tidak lagi berharga sehingga tidak layak di Uber-Uber apalagi di Cinta.

Perbuatan membuang Uang ke Laut, pernah menjadi sasaran kritik Ibnul Qayyim kepada kaum Sufiyyah yang melakukannya. Karena perbuatan tersebut secara Fikih Dhahir Hukumnya Haram disebabkan Tadzyi’ul Maal mensia-siakan Harta.

Namun Ba’dhul Arifien Quddisa Sirruh, menjawabnya banyak, diantaranya :
“Kaum Sufiyyah membuang Harta ke Laut, saat mereka mulai merasa Hatinya tertambat dengan Harta tersebut.

Dan bagi seorang Sufi Haram Hukumnya Mencintai Harta Dunia, dan bahayanya Cinta Dunia itu lebih Dahsyat dari Dosanya mensia-siakan Harta.

Jika ditanya, mengapa tidak di Sedekahkan saja? Dijawab bahwa, terhadap sosok Sufi seperti diri mereka sendiri saja, mereka tidak mempercayai untuk menyerahkan ‘Dunia’, apalagi terhadap orang lain? Tuhmah (Kekhawatiran) tersebut membuat mereka terpaksa membuangnya ke Laut.

Apa yang dilakukan Habib Ja’far juga selaras dengan hal diatas, dimana Beliau ingin mengajari Muhibbinnya, supaya tidak Cinta Dunia, dan Beliau peraktekkan sendiri didepan Matanya.

Membuang uang berjuta-juta ketengah Laut, seperti berkata :
”Ji, jangan Kedunyan (Cinta Dunia). Uang itu bagi seorang yang “Mengerti” , tidak ada Nilainya.

Kemudian saat akan pulang, Habib memanggilnya kembali :
“Ji, kamu punya tanaman dalam pot di pojok Rumah?”.

Pak Kaji menjawab :
“Bener Bib”.

“Sampai rumah, cabuten ae”, kata Habib Ja’far.

Pak Kaji langsung terdiam dan heran, kok Habib Ja’far bisa tahu dia punya tanaman itu, karena hal-hal Kasyaf model begitu sudah biasa dia jumpai dalam Diri Habib Ja’far.

Ini pelajaran penting untuk dirinya dari Habib, karena beberapa waktu belakangan ini dia sangat suka merawat tanaman tersebut.

”Harganya mahal, saya membelinya 7 juta rupiah”, kata Pak Kaji.

Tampaknya, dia diajari oleh Habib Ja’far :
”Ji, Ji…Bebaskan Hatimu dari Ta’alluq condong dengan tanaman berharga jutaan. Bersihkan Hatimu dari suka mobil Fortuner. Bersihkan hatimu dari kicauan Lovebird. Bersihkan hatimu dari Akik Bacanmu . Bersihkan hatimu dari Wajah Ayu istrimu dan gemesinnya anak-anakmu…Bersihkan…Bersihkan…Bersihkan…”.

Perumpamaan Wali Jadzab (Aneh, Khariqi-‘Adah) di Hadapan Allah Swt adalah selayaknya anak kecil di hadapan orang tuanya yang sangat Pengasih dan dia melakukan apa saja karena Yakin di Cintai-Nya.

Al Fatihah…

Selamat Jalan Yaa Habib…Sudah saatnya Antum Berkumpul dengan Rasulullah Saw…

Allahumma Shalli ‘Alaa
Sayyidina Muhammad Wa ‘Alaa Aali Sayyidina Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *