PITA DKI Jakarta Gelar Webinar Akhir Tahun”Refleksi 5 Tahun Perda No 4/2015 Tentang Pelestarian Betawi

PITA DKI Jakarta Gelar Webinar Akhir Tahun”Refleksi 5 Tahun Perda No 4/2015 Tentang Pelestarian Betawi

ZONAINDONESIA.ID, JAKARTA-Pengurus Wilayah Perkumpulan Pemuda Cinta Tanah Air (PITA) Provinsi DKI Jakarta mengadakan diskusi akhir tahun melalui webinar atau daring pada Rabu tanggal 29 Desember 2020, dengan  mengangkat tema “ REFLEKSI 5 TAHUN PERDA NO 4 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN BUDAYA BETAWI, ANTARA KENYATAAN DAN HARAPAN “.

Menghadirkan Prof. Jimly anggota DPD RI Provinsi DKI Jakarta sebagai keynote speaker yang melihat bahwa Perda No 4 Tahun 2015 tentang pelestarian budaya betawi masih sangat umum dan terlihat seperti kurang fokus. Dalam kesempatan tersebut Prof Jimly Asshiddiqie menitikberatkan bahwa kebudayaan sangatlah penting bagi suatu daerah dan juga suatu bangsa. Oleh karena itu harus dipertahankan agar tidak terkikis bahkan sampai menghilang dan Bamus Betawi sebagai induk orang betawi harus fokus pada upaya pembinaan sosial kemasyarakatan dan mungkin perlu juga peraturan khusus mengenai Bamus Betawi agar dapat lebih maksimal dan optimal.

Bang Becky selaku ketua umum LKB mengatakan bila kenyataan saat ini apapun mengenai kebijakan mengenai kebetawian seperti seolah – olah dilandasi dengan dasar kasihan, dan pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam hal ini dinas kebudayaan cenderung terlihat menyamaratakan kebijakan yang berkaitan dengan kebudayaan. Seharusnya dinas kebudayaan lebih intens dan fokus kepada program – program yang mengena kepada budaya betawi, karena budaya daerah lain tentu sudah tersuport juga oleh pemerintah daerahnya masing – masing.
Perhatian pemerintah merupakan amanat konstitusi seperti termuat dalam UU 29/2007 tentang Ibukota Pasal 26(6) dan diperkuat lagi dengan UU no 5/2017 tentang pemajuan kebudayaan dan juga Perda 4/2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. Jadi sudah seharusnya dan menjadi kewajiban pemerintah daerah untuk mendukung penuh seluruh program kebudayaan didaerah itu sendiri.

Direktur Pusat Studi Betawi Universitas Islam A-Syafi’iyah, yusen hardiman sangat mendukung apabila memang perda pelestarian kebudayaan betawi akan di revisi dan tentunya diperkuat sesuai dengan perkembangan jaman, agar bisa selaras dan tidak terdegradasi oleh kehadiran buday – budaya lain terutama budaya asing.
Soni Sumarsono selaku mantan Plt Gubernur DKI Jakarta pun menyambut pernyataan ketua LKB, memang secara konstitusional jelas, sesuai amanat UU maka pemerintah daerah harus mengalokasikan pembiayaan terhadap program – program kebudayaan, jadi itu sudah menjadi kewajiban atau keharusan.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana menyambut positif dan sangat mengapresiasi webinar yang diadakan oleh penggurus wilayah perkumpulan pemuda cinta tanah air DKI Jakarta, dengan adanya kegiatan seperti ini tentunya akan sangat bermaanfaat, karena banyak masukan – masukan yang sangat berarti dan menjadi bahan untuk dinas kebudayaan dalam membuat program dan menjalankannya, pastinya kami selalu siap dan terbuka dengan segala kritik dan saran serta menampung semua aspirasi para pelaku seni budaya. Intinya kami dinas kebudayaan mewakili pemerintah provinsi DKI Jakarta siap untuk bersinergi dan berkolaborasi dengan siapapun, yang tujuannya sama – sama untuk bukan hanya sekedar melestarikan, membina budaya, namun juga memajukan dan terus berinovasi dalam hal budaya terutama budaya betawi.

Sebagai kepala kesbangpol DKI Jakarta, Taufan Bakri menyatakan hal yang tidak jauh berbeda yaitu akan menjalankan sesuai amanat UU dan mensuport segala program sesuai dengan aturan yang berlaku.
Di penghujung Bang Becky mengutarakan bahwa secara lahiriah LKB ( Lembaga Kebudayaan Betawi ) adalah anak kandung dari pemerintah daerah provinsi DKI Jakarta, sebagai pengemban amanat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi yang mengemuka saat PRALOKAKARYA PENGGALIAN dan PENGEMBANGAN SENI BUDAYA BETAWI, yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta pada 16-18 FEBRUARI 1976. Nama LKB diusulkan oleh jurnalis Betawi asal Gang Sentiong, Muhammad Hud.
Tidak bisa dipungkiri walau banyak perdebatan, BAMUS Betawi sendiri berdiri atau lahir dikarenakan dinamika politik pada tahun 1982. Dimana itu adalah bagian dari upaya untuk menandingi pergerakan masyarakat betawi yang memang sangat religius dan Berafiliasi terhadap Partai Islam.
Webinar “ REFLEKSI 5 TAHUN PERDA NO 4 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN BUDAYA BETAWI, ANTARA KENYATAAN DAN HARAPAN “. Jelas memberikan ruang diskusi yang sangat hangat dan menjadi suatu kegiatan yang akan mematik suatu kesepahaman dan kesepakatan bersama untuk kemajuan budaya betawi dan menjadikan budaya betawi menjadi tuan rumah di DKI Jakarta. Karena kedaulatan daripada suatu daerah akan terlihat dari identitas daerah itu sendiri, diujung saya ingin mengutip bahwa saat ini sudah saatnya membahagiakan warganya untuk menjadikan maj kotanya. Tutup Ervan Purwanto selaku moderator.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *