Asep Masko : Buat Kepentingan Siapa Reshuffle..? (Catatan Kajian Forum Tajuk Kuring)

Asep Masko : Buat Kepentingan Siapa Reshuffle..? (Catatan Kajian Forum Tajuk Kuring)

ZONAINDONESIA.ID- Sejak NKRI mulai berdiri sampai saat ini rakyat masih belum sadar sedang terhipnotis oleh mantera-mantera yang membuat statusnya menjadi berubah seketika, dan akibat mantera-mantera itu pula maka semua harta miliknya menjadi raib berpindah tangan sehingga yang tersisa hanyalah sekedar pengakuan belaka.
Pasal 33 ayat 3 UUD 45 mengatakan; “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Dalam pasal ini secara implicit menjelaskan bahwa status rakyat adalah sebagai owner dari semua harta yang ada di Tanah Bumi Pertiwi ini.
Dan secara eksplisit pasal tersebut menjelaskan bahwa semua pejabat adalah sebagai pekerja atau kasarnya sebagai buruh. Oleh karena itu maka suka lahir slogan-slogan seperti “Uang Rakyat dan atau Pengabdian kepada Rakyat”
Lantas bagaimana faktanya..? dari mulai NKRI berdiri sampai hari ini masalah kemiskinan tetap abadi bahkan jumlah Si Miskin pun makin bertambah. Apa buktinya..? dari mulai NKRI berdiri sampai sekarang masalah inplasi terus melejit tidak terkendali, begitupun Pengurangan Pencabutan berbagai Subsidi terus berjalan. Pajak dan berbagai restribusi terus membengkak. Belum sekarang ini ditambah persoalan pandemic covid-19 dan krisis global yang otomatis membuat rakyat makin berat menanggung beban hidup terlebih bagi Si Miskin.

Awalnya Negara didirikan semata-mata untuk kemakmuran rakyat. Setelah mantera-mantera dibacakan maka persoalannya menjadi berubah seketika. Kenapa..? karena akhirnya rakyat lah yang harus banyak “Mengalah Berkorban” demi Eksistensi sebuah Negara. Salah satu contoh: Kita sebagai Negara Maritim yang sangat luas tentu bisa dikatakan “Salah Besar” kalau sampai tidak punya “Kapal Selam” untuk pengamanan terotorial. Jumlah yang kita butuhkan tentu bukan hanya satu atau tiga tapi minimal harus sesuai dengan kebutuhan untuk menjaga wilayah-wilayah strategis perbatasan kelautan NKRI.
Untuk menutupi kebutuhan performan Negara yang urgen seperti itu, maka dengan kekuatan APBN yang terbatas terpaksa rakyat lah yang harus dikorbankan, dalam artian harus mengalah berkorban demi Negara. Lantas akhirnya apa..? terpaksa masalah kemiskinan menjadi kurang mendapat perhatian. Dan karena soal kemiskinan itu terhitung masalah yang sangat rawan, maka untuk mengatasi gejolak social pemerintah mengantisifasinya dengan program JPS. Yang dimana kalau kita hitung-hitung tetap totalnya masih kurang sangat memadai jika kita bandingkan dengan kebutuhan biaya untuk menutupi apa-apa yang menjadi ambisi Negara dalam mempersolek serta memperkokoh performannya.

Masalah kemiskinan memang akan selalu berbanding lurus dengan pailitnya APBN. Sementara disatu sisi Negara adalah organisasi besar yang keberadaannya kalau kita ibaratkan laksana Raksasa yang perutnya tidak pernah kenyang. Lihat saja sosok Adidaya. Semakin besar kewenangan yang dia miliki maka semakin besar pula dana yang dibutuhkan untuk membiayai langkah-langkah ambisinya. Sehingga logis kalau dalam persoalan internalnya masalah kemiskinan menjadi tetap abadi terbengkalai mangkrak sepanjang zaman. Namun pun begitu jangan dianggap soal kemiskinan itu sesuatu yang mati, sebab lama kelamaan pasti akan menggerogoti pilar-pilar “Demokrasi” persis seperti besi yang keropos dimakan karat, yang akhirnya kepercayaan rakyat pada Lemabaga Legislatif menjadi hilang sirna ditelan oleh klimaknya “Rasa Kekesalan Kekecewaan”. Sementara masalah kemiskinan mustahil selesai dengan cara terus menumpuk-numpuk utang. Lagi pula teori macam apa kalau utang malah diandalkan bisa mengatasi kemiskinan.

Berhutang bukanlah solusi untuk mengatasi kemiskinan. Buktinya semakin utang bertumpuk seiring itu pula masalah kemiskinan semakin membengkak laksana penyakit “Abses” yang denyut nanahnya terus aktif dan menguning sehingga tinggal menunggu waktu kapan tepatnya meledak. Inilah mungkin yang disebut hidup dalam “Lingkaran Setan”. Kenapa..? karena bagi pemerintah tidak ada jalan lain untuk bisa tetap bertahan hidup selain terpaksa upayanya wajib berutang. Sementara berhutang adalah sesuatu yang mutlak tidak bisa disebut sebuah “Prestasi Prestise”. Kenapa..? karena dengan berhutang itu merupakan pertanda atas kegagalan “Pengusaha (Negara)” dalam Mengelola Mengatur perdagangan Nasional Internasional.
Karena itu, ketika rakyat protes menuntut kesejahteraan yang merupakan haknya, maka dengan ketidak berdayaannya pihak Eksekutif terpaksa berdalih bahwa semua ini terjadi atas hasil kesepakatan wakil-wakil rakyat yang ada di Gedung Senayan (DPRRI). Faham tidak maksudnya..? artinya bahwa masalah abadinya kemiskinan dan bertambahnya jumlah Si Miskin, itu adalah hasil keputusan “Musyawarah Mufakat Eksekutif dan Legeslatif”.

Pertanyaanya; “kalau begitu sebenarnya buat kepentingan siapa reshuffle..? jika kita lihat fakta yang terjadi sekarang, rakyat yang seharusnya berstatus sebagai tuan malah terbalik menjadi objek yang dieksploitasi, sementara para pejabat yang harusnya sebagai buruh malah menjadi Boss yang banyak menikmati berbagai pasilitas serba mewah. Bahkan sekali-kali kalau dikritik maka Si Boss suka marah-marah sambil bertulak pinggang karena merasa paling berwenang. Cerita “Dunia Terbalik” seperti ini terjadi akibat saking sangat ampuhnya mantera-mantera yang digunakan para tukang tenung dalam menghipnotis benak-benak rakyat.
Seribukali reshuffle pun tetap masalah tidak akan selesai sebab akar masalahnya bukan di soal reshuffle. Yang ada malah akan tambah bingung sebab dengan “Ego Personal” para pejabat selalu pasti merubah kebijakan. Kini masalah pandemic covid-19 bebannya diserahkan kepada Menkes yang baru yang diagung-agung konon punya track record dalam soal minigerial. Padahal kalau kita pikir secara Sehat Jernih bahwa masalah pandemic covid-19 ini jelas-jelas sudah sering dibahas dan bahkan ditangani oleh berbagai para ahli. Lucunya sekarang dengan serba kegagalannya terpaksa Menkes yang lama lah yang harus rela untuk dijadikan tumbal “Kambing Hitam”.
Semua ahli sya’ir optimis mengatakan seakan-akan reshuffle adalah segala-galanya yang bisa merubah keadaan menjadi baik. Mereka kira bahwa semua rakyat bisa terpikat oleh gubahan-gubahan sya’irnya. Entah apa yang ada dalam benak-benak mereka sampai sedikit pun tidak sungkan dan tidak malu melontarkan pernyataan yang tanpa dipikir lebih dulu. Bagaimana mungkin keadaan akan membaik dengan mengganti enam mentri ditengah kompleksitasnya masalah.
Jangankan sama enam mentri, semua mentri diganti dengan yang baru pun tetap masalah tidak akan teratasi, bahkan yang pasti akan semakin bertambah. Lihat saja nanti kegaduhan apalagi yang akan terjadi.
Jangan sekali-kali mengkambing hitamkan virus corona. Sebelum pandemic covid-19 terjadi, setumpuk PR sudah menjelma di depan mata dan bahkan sangat memusingkan kepala. Serta satu pun tidak ada yang tuntas teratasi. Dan kalaulah virus corona dipandang suatu bencana atau musibah, tetap mustahil bencana itu terjadi “Tanpa Sebab” kalau bukan pastinya karena diundang oleh perbuatan-perbuatan manusia juga. Atas dasar kebencian apa Tuhan dengan ujug-ujug menibankan azab jika tanpa alasan, apa untungnya bagi Tuhan melakukan hal itu.
Soal yang paling berat sekarang ini penyakit “Moral Mental” yang bokbroknya sudah sangat begitu akut. Terjadi secara masiv sistemik sampai menyusup ke saraf-saraf Birokrasi. Dana BANSOS yang tadinya BLT disulap oleh para tikus menjadi BPNT.

Penyulapan itu bukan perbuatan personal tapi sudah merupakan aturan birokrasi lembaga pemerintah. Itulah salah satu bukti kebokbrokan moralitas birokrat yang terjadi saat ini. Tingkat kejahatannya benar-benar sangat keterlaluan. Bagaimana tidak, coba bayangkan, dimasa pandemic covid-19 yang serba sulit seperti sekarang ini, sampai tega-teganya para tikus menyisakan BANSOS kepada Si Miskin yaitu telur tiga butir dan beras dua kg dengan kualitas yang tidak memadai. Itulah sepenggalan cerita tentang fakta BANSOS covid-19 yang terjadi di kehidupan Si Miskin.
Untuk itu keberaniaan KPK dalam menggembosi tikus-tikus birokrasi sehingga bisa keluar dari lubang ladang-ladang yang subur perlu diacungkan jempol. Namun demikian perlu juga dipertanyakan; kenapa KPK sampai seberani itu menerkam dua tikus besar yang sudah pasti itu adalah hewan-hewan titipan, yang konon menurut isu harus dihukum mati. Dan karena ini menyangkut masalah besar, maka sangat tidak mungkin kalau dibelakang KPK tidak ada kekutan yang lebih super. Apalagi kemaren-kemaren KPK sempat dipandang tumpul karena terindikasi ada upaya-upaya pelemahan. Tapi sudahlah hal itu rasanya tidak penting dibahas panjang sebab itu khusus merupakan permainan Para Elite.
Yang penting yang harus kita ketahui bahwa hancurnya moralitas itu merupakan akibat dari pertarungan politik yang terus terjadi tanpa pernah berhenti. Masing-masing punya cita-cita tnggi berambisi ingin menjadi penguasa. Meski dalam cerita rezim ada koalisi, itu sifatnya hanya sementara, sebab dengan aturan yang ada bahwa suatu saat bisa saja Si Rezim berubah wajah. Untuk mendukung cita-cita seperti itu jelas butuh modal yang sangat besar, apalagi dimasa-masa sekarang ini persoalan “Pragmatisme” benar-benar sudah kuat mengakar sampai ke “Akar Rumput”.
Pada masa-masa tertentu secara kasat mata koalisi akan terlihat seperti adem-adem saja. Yaaah ibarat setenang lajunya permukaan Air Kali Brantas yang padahal dibawahnya terjadi arus yang deras. Dan ketika pada saat Ring Tinju mulai dibuka, maka masing-masing para tokoh politisi akan melakukan Push Up dan berlari-lari menyusun strategi untuk membunuh langkah-langkah lawan dan atau mencari kawan yang bisa diajak joint buat meraih apa yang menjadi Ambisinya. Bahkan disaat sekarang pun tentu kita sudah bisa melihat gejala-gejalanya, padahal PILPRES masih jauh waktunya untuk dibuka. Selain itu bahwa kompleknya masalah penyakit moralitas itu diperparah oleh kepentingan-kepentingan Oligarki dalam upaya melanggengkan dinasti korporetnya demi untuk mengkeruk rezeki yang terpendam di Tanah Bumi Pertiwi.

Penutup
Perlu kita ketahui; bahwa bokbroknya masalah moralitas birokrat sekarang ini adalah merupakan wabah dari sistem Materialisme Monopolisme yang saat ini secara De Fakto dianut oleh semua Negara dipenjuru bumi. Karena itu kalau ada pertanyaannya; “buat kepentingan siapa reshuffle..? maka jawabannya; silahkan tafsirkan sendiri sesuai apa yang telah saudara ketahui. Yang pasti kita sebagai manusia jangan pernah lelah untuk berpikir dan berdo’a; semoga Allah SWT cepat atau lambat memberi petunjuk terhadap kita semua sehingga kita bisa keluar dari Alam Kehidupan Yang Serba Gelap Gulita.
Aamiin Yaaa Rabbal Aalamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *