Aki Suwung : The Great Frank

Aki Suwung : The Great Frank

ZONAINDONESIA.ID- Tak ada yang lebih menarik kecuali moment Sandi Uno diangkat jadi Menparekraf. Sebuah kartu iconik harapan terakhir “kelompok perlawanan” yang itupun tumbang.
Selesai sudah perhelatan panjang kontestasi pilpres bak orkestra “Great Frank” yang sangat sensasional.

Banyak catatan berharga, pelajaran menarik dari kejadian ini dan semoga makin mencerdaskan rakyat negeri ini akan hakekat politik dan agama.
Tak ada teman dan lawan abadi, yang ada adalah hanya satu, kepentingan abadi. Demikian sebuah adagium politik mengatakan.
Hal ini sudah seharusnya mampu membuka mata dan mencerdaskan rakyat.
Lihatlah betapa dulu berbagai jargon agama dimunculkan dengan gegap gempita hingga
membelah ummat secara frontal dan radikal saling berhadapan “mengasah pedang”,
seolah situasi sedemikian genting disamakan dengan pertrungan Al Haq/Iman الحق melawan kekufuran Al Bathil الباطل di medan Kurusetra Perang Badar ala Neno Warisman, atau epos heroik pasukan burung pipit melawan keangkaramurkaan raja Namrudz dzalim atau bak barisan pengikut nabi Musa
melawan tirani bengis raja Ramsesc II (Fira’un).

Ada juga “fatwa ulama” berjilid jilid sebagai penguat “legitimasi profetis dan theologis”.
Ada demo mengharu biru diberbagai kota apalagi di Jakarta menjadi saksi panggung kolosal kedahsyatan jutaan masa yang berkumpul, berdoa, bermunajat seraya mencucurkan airmata dengan satu harapan tunggal, demi kemenangan sang “Satrio Paningit” idola.
Banyak yang dengan keikhlasan 1000% rela dan semangat membaja mengorbankan segalanya, ada emak-emak yang dengan heroiknya membela meski harus masuk penjara, ada abang2 gojek dan masyarakat kecil mengumpulkan berkarung karung recehan, menyumbang untuk kemenangan sang sang Satrio Paningit yang diidolakan.
Begitupula beberapa partai “bergenit ria”, ikut mengambil keuntungan,mengail di air keruh, tampil menjadi pahlawan menjual dagangan agama demi meraih suara ummat Islam.
Kini semua sirna, lenyap tak berbekas bak debu disapu hujan sangat deras, bersih tak tersisa.
Yang tertinggal hanya kekecewaan, kegeraman, caci maki, umpatan dan seribu ungkapan kemarahan dan kekecewaan yang tak terkira.

“Ueddaaannnn tenann……..
Untuk apa semua ini kami lakukan, kami telah berdarah darah, mengorbankan tenaga, waktu materi bahkan nyawa jika akhirnya harus berakhir seperti ini”. Demikian kira kira ungkapan mereka yang marah dan kecewa sampai ke ubun ubun.
Prabowo tak salah, Sandiuno juga dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka sebagai manusia.
Begitupula politik, tak ada yang salah dengan segala carut marut dan kelemahan sistemik dan karakter manusianya dalam platform Demokrasi sebagai rule of the game.
Demokrasi memang bukan sistem sempurna, memilik cacat bawaan tapi itu adalah satu2nya instrument kita.
Yang salah adalah persepsi manusia yang seringkali terlalu obsessif tapi tidak rasional melihat kenyataan empirik.
Obsessif mengidolakan seseorang sebagai tempat bergantung dan berharap hingga diposisikan sedemikian istimewa selevel dewa full power nan sempurna.
Kesalahan yang paling fatal adalah jargon jargon agama seolah sebagai penguat theologis profetis yang digunakan, agama politisasi agama dan terkapitalisasi menjadi sebuah produk dagangan untuk menjadi jembatan meraih tampuk kekuasaan.
Memang sepanjang sejarah, persinggungan agama dan politik adalah realitas yg tak terhindarkan dan akan terus sampai kiamat, tapi kita harus cerdas dan Arif menyikapinya, sejarah Islam telah sangat banyak dapat dijadikan referensi untuk itu.
Mari rakyat sebangsaku, semua saudaraku kita buka kesadaran dan kecerdasan, tempatkan sesuatu pada tempatnya dengan benar, jadikan agama sebagai instrument memperbaiki akhlak dan menambah amal kebaikan, bukan sebagai dagangan.
Kepada para politisi, aktifis partai, pejabat dan lain lain tolong cerdaskan rakyat , beri rakyat tontonan mencerdaskan bukan menghipnotis rakyat dengan berbagai doktrin2 agama dan idealisme palsu, hingga rakyat sekedar menjadi sekawanan domba yang hanya mampu mengembik dengan koor nada seragam dan siap digiring ke arah mana kemauan sang tukang angon.

Ayo sudahi semua kehebohan ini, kita akhiri gonjang ganjing politik yang membawa bawa agama saat ini, biarkan mereka bekerja dengan baik.
Mari kita dukung Pak Jokowi dibantu Pak Prabowo dan Sandiuno bekerja dengan baik memimpin kita membangun bangsa.
Jikapun mereka salah ayo kita kritik bersama, kita jewer, kita demo jika perlu kita impeachment jika kesalahannya sudah tak bisa ditolelir lagi, tapi jangan “bakar” rumah kita bersama.
NKRI rumah kita bersama, baik buruk itu rumah kita, jika banyak tikus ayo kita usir tikusnya, tapi jangan bakar rumahnya hanya untuk mengusir tikus, jika rumah kita kurang baik dan indah mari kita perbaiki bersama agar rumah kita menjadi makin baik dan indah, hingga rumah kita mampu tampil dengan gagah dan bermartabat dan dikagumi dal bangsa2 lain dalam percaturan dunia global.
Semoga.
Salam damai semua anak negeriku yang sedang terluka.
Semoga kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan cepat tercipta.
#Suwung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *