MASALAH MANUSIA DAN NEGARA

ZONAINDONESIA.ID-Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Malam dan Siang dua waktu yang sangat berbeda. Mustahil ada Malam dalam kondisi Siang, Mustahil ada Siang dalam kondisi Malam. Ashar waktu menjelang Malam, Subuh waktu menjelang Siang. Di kedua waktu itu secara implisit terdapat tanda-tanda kebesaran Tuhan tentang kepastian akan terjadinya perubahan kondisi kehidupan manusia secara komprehensif. Persis seperti silih bergantiannya Waktu Malam dan Siang yang terjadi secara utuh menyeluruh. Malam total pekat terselimuti dengan serba gelapnya, Siang pun total cerah terhiasi oleh serba terangnya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. Al-Qur’an surat 3 (Al Imraan) ayat 190.

Pastinya semua para akademisi akan merasa tidak aneh kalau dikatakan bahwa manusia makhluk social. Namun yang menjadi pertanyaanya; kesimpulan apa sebenarnya yang telah ditemukan logika setelah benak tahu soal itu..? sifat sosial yang tertanam kuat ditiap-tiap diri manusia, itu jelas samasekali bukan pesanan kita (manusia), tapi sifat itu memang sengaja dicetak Sang Pencipta Hidup yang punya rencana besar dibalik itu. Tahukah kita, apa rencana besar Tuhan Pencipta langit dan bumi soal itu..?

Manusia makhluk sosial yang oleh sebab itu otomatis secara alami semua manusia sepakat Butuh Ingin hidup “Dipimpin Terpimpin” demi untuk menciptakan rasa Aman Nyaman. Itu adalah pertanda bahwa manusia bukan binatang Jahat Buas, tapi makhluk yang benar-benar Lunak Jinak Ramah serta sangat Berpengertian. Karena hakikatnya semua manusia secara naluriah cinta Tuhan. Lalu sehubungan dengan hal itu Negara hadir dengan segudang perlengkapannya Menguasai Mengeksploitasi hak-hak hidup manusia, dan berjanji sanggup memenuhi semua apa yang Dibutuhkan Diinginkan manusia. Tapi apa faktanya..? yaaah buktinya tidak perlu berdebat, yang jelas faktanya adalah sebagaimana yang kita Dengar kita Lihat dan kita Rasakan saat ini. Negara sibuk berat terlilit oleh segudang Problematikanya, Rakyatpun sibuk berat tertimbun oleh setumpuk Kesusahannya.

Padahal usia sistem Materialisme Monopolisme dalam menguasai kehidupan manusia sudah berjalan ribuan tahun. Tapi sampai saat ini semua Negara masih belum sadar bahwa sistem yang menjadi alat andalannya itu bukan saja menghinakan harga dirinya tapi bahkan sekaligus mencelakai dirinya. Faktanya hakikat iIntegritas sosok pemimpin yang semestinya dihormati rakyat malah terbalik menjadi dicaci dihina dihujat rakyat. Sampai-sampai jatuhnya harga diri sosok pemimpin melebihi sifat kejahatan gerombolan tikus yang sering menyerang melahap tanaman padi milik para petani.
Akhirnya Ruh Pemimpin yang semestinya duduk senang ongkang-ongkang di Alam Surgawi malah terbalik terpaksa nasibnya harus menjadi penghuni Neraka Jahanam. Yang dalam arti bahwa sekarang ini hidupnya Jiwa-jiwa para pemimpin menjadi jauh dari rasa ketenangan. Karena sebahagian umumnya masyarakat sekarang ini dengan rasa kegalauannya menjadi memandang Negara seakan-akan seperti musuh yang paling menyebalkan menjengkelkan. Lantas pertanyaannya; “Apa atau Siapa sih sebenarnya Negara itu..?” Sungguh ironi. Tapi memang begitulah ketetapan Sunnatulloh yang semestinya berlaku dalam cerita kehidupan manusia di Waktu Malam.
Dimasa-masa ini rasa kegalauan manusia semakin menjadi. Disatu sisi alam pikirannya menyimpulkan; “rasanya sangat tidak mungkin kalau harus membubarkan Negara dengan segala kelengkapannya”. Namun di sisi lain naluri kemanusiaannya tetap sulit dibohongi; “bahwa faktanya Negara dan semua perlengkapannya hanya mampu memberikan lukisan-lukisan fatamorgana”. Kemanusiaan Keadilan Keberadaban serta Persatuan Persaudaraan dan Kerukunan, itu semua hanyalah slogan-slogan belaka. Sebab faktanya kehidupan yang dilakoni saat ini nyata sarat diselimuti perbedaan yang berujung pada sengitnya Peperangan Pertengkaran Percekcokan hingga membuahkan dalamnya rasa Dendam dan Permusuhan. Begitulah memang ketetapan Sunnatulloh yang semestinya berlaku dalam cerita kehidupan manusia di Penghujung Malam.
“Sesungguhnya telah berlaku sunnah Allah pada umat-umat yang sebelumnya. Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi (untuk melakukan pembuktian). Lalu perhatikanlah bagaimana akibatnya (kondisi kehidupan kaum-kaum) yang mendustakan (menentang sunnah Allah/rasul-rasul)”. Al-Qur’an surat 3 (Ali Imran) ayat 137.
“Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga, yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata yang ada di kepala itu yang buta, tetapi yang buta itu ialah hati yang ada di dalam dada”. Al-Qur’an surat 22 (Al Hajj) ayat 46.
Katakanlah: “Aku tidak pernah mengatakan kepadamu bahwa pembendaharaan Allah ada padaku. Aku pun tidak tahu perkara yang ghaib. Dan tidak pula kukatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Apa yang kukatakan kepada-mu, hanyalah mengikuti wahyu yang diwahyukan Tuhan kepadaku. Tanyakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak pernah memikirkannya? Al-Qur’an surat 6 (Al Anaam) ayat 50.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *