Biografi Dan Rahasia Karomah Habib Umar Bin Hud Al Athos

ZONAINDONESIA.ID-  Habib Umar Bin Hud Al Athos sesok panutan dengan sejuta cerita karomah yang selalu menyertainya. Dengan ke Iklasan yang selalu mendakwahkan Agama dan ajaran Kakeknya sang penghulu Rasulullah Allah Muhammad SAW. Pada masanya beliau termasuk sosok orang yang dapat menyelenggarakan maulid terbesar didunia tak heran jika majlis maulidnya selalu ramai dan puluhan ribu jamiyyah dari segala penjuru dunia datang ketempatnya. Karena nama besar dan kiprahnya yang sudah dikenal di dunia inilah rumah beliau tidak pernah sepi dari tamu yang berkunjung ketempat beliau dari yang meminta solusi permasalahan hidup sampai dengan urusan akherat dapat beliau selesaikan dengan arif dan bijaksana.

Ketinggian derajat dan kearifan beliau menjadikan beliau mendapat kedudukan maqom yang agung sebagai waliallah, dan banyak yang menyatakan bahwa beliau adalah seorang wali quthub dijamannya. Beliau hidup pada abad ke 19an dan dilahirkan di Hadramaut persisnya di Yaman Selatan .

Habib Umar meninggal dunia pada bulan Agustus 1999 di rumahnya dan dimakamkan di Wakaf al-Hawi dekat dengan pusat perbelanjaan PGC cililtan sesuai dengan wasiat beliau.

Sejak muda beliau menimba ilmu agama di Hadramaut. Sampai akhirnya beliau hijrah ke Jakarta pada tahun 1940-an untuk menemui kedua orang tuanya, Habib Muhammad bin Hasan bin Ali bin Hud Al-Aththas yang telah terlebih dulu menetap di Kwitang

Habib Umar Bin Hud Al Athos datang keIndonesia pada usia muda beliau datang keIndonesia sambil berdagang kain di Tanah Abang dan tinggal pertama kalinya di daerah Kwitang – Jakarta Pusat. Dan memulai dakwahnya didaerah Cicurug -Sukabumi Jawa Barat. Di tempat inilah beliau menggelar maulid Nabi tiap tahunya.

Maulid yang di selenggarakan oleh Habib Umar Bin Hud Al Athos ini dihadiri sekitar 100.000 jamaah, termasuk ratusan jamaah dari mancanegara. Perjamuan dan hidangan makanan untuk para jamaah yang menghadiri maulid ini diperlukan ribuan ekor kambing dan berton-ton beras. Tiap ditanya tentang dari mana sumber dananya maka Habib Umar selalu bilang dari Allah.

Acara Maulid yang beliau selenggarakan tergolong lain dari pada yang lain , dan tidak seperti acara maulid Nabi yang sekarang dapat kita jumpai , sebab dalam acara tersebut Habib Umar Bin Hud Al Athos tidak pernah menggelar acara ceramah atau tausiah pada acara pada umumnya. Acaranya singkat dan langsung saja dengan pembacaan maulid- zikir dan ditutup dengan do’a. Hal ini dilakukan karena Habib Umar Bin Hud Al Athos khawatir akan menimbulkan saling serang dan fitnah.

Kegiatan yang tidak kalah menarik untuk disimak dan penuh barokah yang lain adalah kegiatan sholat jamah sholat subuh yang sering diselenggaran Habib Umar Bin Hud Al Athos dikediamannya di Condet . Jamaah sholat subuh yang mengikuti ini terbilang menarik dan sangat luar biasa , sebab menurut pengamatan kami jamaah sholat subuh terbilang sangat sepi dibandingkan jamaah sholat wajib yang lainnya , hal ini terjadi diberbagai pelosok penjuru Masjid di Indonesia. Namuh sangat berbeda dengan Sholat subuh yang diselenggarakan Habib Umar Bin Hud Al Athos sekitar 300 jamaah sholat subuh yang datang.

Dan akan mengalami peningkatan sampai 300 persen khusus pada hari Jumat, jamaahnya meningkat menjadi sekitar 1.000 orang. Karena pada hari Jumat setelah sholat subuh Habib Umar Bin Hud Al Athos menggelar pengajian kajian Fiqih sedangkan di Cipayung bogor tiap kamis malam diadakan pembacaan maulid diba’ dan yang menarik adalah setelah diadakan kegiatan tersebut para jama’ah dijamu oleh Habib Umar Bin Hud seperti nasi uduk lengkap dengan lauk-pauknya.
Pada tahun 1950-an, Habib Umar Bin Hud Al Athos ke Mekkah dan bermukim selama beberapa tahun dan selama di mekkah beliu menggunakan kesempatan tersebut untuk belajar kepada ulama-ulama setempat. Namun , sayangnya, saat hendak kembali ke Indonesia, ia tertahan di Singapura.

Pasalnya, pada awal 1960-an terjadi konfrontasi antara RI dan Malaysia, sementara Singapura masih merupakan bagian negara itu. Habib Umar baru kembali ke Tanah Air setelah usai konfrontasi, pada awal masa Orde Baru. Tapi, rupanya banyak hikmah yang diperoleh di balik kejadian tersebut. Karena, selama lebih dari lima tahun di Malaysia dan Singapura, ternyata beliau sangat dihormati oleh umat Islam setempat, termasuk Brunei Darussalam.
Certa Karomah dan Keramat Habib Umar Bin Hud Al Athos
Suatu saat ada seorang yang minta nomer Togel pada Habib

Umar Bin Hud Al Athos, namun beliau tidak langsung menghadirkan dan memarahinya , dengan sifat arif dan santunya beliau menerimanya dan memberikan nomer togel pada orang tersebut namun dengan satu syarat.
“Saya akan berikan engkau nomor togel , dengan syarat jika engkau menang undian segeralah bawa uang itu kepadaku.” Jawab Habib Umar.

Ke esokan harinya seorang laki-laki tadi datang dengan wajah sumringah dan bungah dengan berkata
“Habib, saya berhasil menang togel tembus bib . Ini uangnya.” Katanya berseri-seri.
Penuh ketenangan Habib Umar minta muridnya mengambil sebuah baskom, lalu katanya, “Perhatikan apa yang aku perbuat.” Lalu beliau menggenggam uang segepok itu dan memerahnya di atas baskom. Aneh! Dari genggaman tangan Habib Umar mengucurkan darah segar, mengalir memenuhi baskom. “Lihatlah, apa yang telah engkau dapatkan dari undian itu.” Katanya.
Melihat kejadian itu laki-laki tadi sontak kaget dan langsung bertaubat minta maaf sama Habib Umar Bin Hud Al Athos untuk tidak mengulanginya lagi.

Ada cerita lain mengenai karomahnya.

Pada suatu hari datanglah seorang lelaki membawa air agar didoakan sebagai obat. Tapi baru saja ia mengetuk pintu, Habib Umar sudah menyuruhnya pulang. Tentu ia bersikeras dan bertahan menunggu di depan pintu. Akhirnya Habib Umar keluar. Katanya, “Pulanglah, air yang engkau bawa itu sudah bisa menyembuhkan.”
“Tapi, Bib…”
“Pulanglah. Bukankah engkau sudah ditunggu oleh keluargamu?”
Mendengar jawaban Habib Umar yang begitu santun dan lembut, orang itu sungkan juga. Akhirnya dengan keyakinan yang kuat ia pulang membawa air dalam botol tersebut, dan menuangkannya ke dalam gelas untuk diminum oleh keluarganya yang sakit.Ajaib! Tak lama kemudian keluarga yang sakit tersebut sembuh. Setelah sembuh, mereka bertamu ke rumah Habib Umar untuk bersilaturrahmi.

Di saat lain, ketika Habib Umar tengah menggelar taklim di masjid, masuklah seorang lelaki berwajah putih bersih. “Wahai Habib Umar, bisakah aku minta nasi kebuli?” tanya lelaki itu.
Permintaan aneh itu tentu saja membuat terkejut seluruh jamaah. Namun, dengan tersenyum Habib Umar berkata arif, “Pergilah ke belakang, dan bersantaplah.” Maka lelaki itu pun segera pergi ke dapur.

Tak lama kemudian taklim itu pun usai, dan Habib Umar bersama para jemaah menyusul ke dapur. Mereka melihat lelaki itu tengah menyantap nasi kebuli dengan sangat lahap.
“Siapakah dia? “dia tamu kita, dia adalah Nabi Khidlir.” Jawab Habib Umar.
Tidak semua Ulama besar mendapat kesempatan dikunjungi Nabi Khidlir. Dan kunjungan Nabi Khidlir itu menunjukkan betapa Habib Umar sangat alim dan shaleh.

Menurut beberapa Habib yang kenal dekat dengan Habib Umar, karamah yang dimilikinya itu berkat keikhlasan dalam merawat ibundanya. Selama 40 tahun, dengan tekun, ikhlas dan sabar, beliau merawat sang ibu hingga akhir hayatnya.

Habib Ismail bin Yahya, seorang pengurus Naqabatul Ashraf, alah satu lembaga penyensus para habib, juga menyatakan, karamah tersebut berkat keikhlasan Habib Umar merawat ibundanya. Bahkan karena lebih mementingkan merawat sang ibu, suatu saat Habib Umar tidak sempat menghadiri pengajian-pengajian di luar rumah, termasuk masjid Riyadh, Kwitang, yang digelar Habib Ali Al-Habsyi.

Ulama besar yang dikenal sangat sederhana dan tawaduk ini wafat pada tahun 1999 dalam usia 108 tahun, meninggalkan tiga putra : Habib Husein, Habib Muhammad dan Habib Salim. Selama hidupnya, almarhum selalu menekankan pentingnya mencintai dan meneladani Rasulullah SAW Sebagai ulama yang shaleh, seperti halnya habaib yang lain, beliau juga suka menggelar maulid. Dalam maulid enam tahun lalu, sebelum wafat Habib Umar memotong 1600 ekor kambing untuk menjamu puluhan ribu jamaah.

Habib Umar dimakamkan di kompleks pemakaman Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur. Upacara pemakamannya kala itu dihadiri puluhan ribu jemaah. Bahkan saking banyaknya jamaah yang ingin menyalalatkan jenazahnya, salat jenazah dilakukan sampai tiga kali dengan tiga orang imam.
Sampai sekarang makam Habib Umar Bin Hud Al Athos tidak pernah sepi dari penziarah dari berbagai daerah yang ingin mengalap barokah Allah SWT lewat wasilah dan doa yang dipanjatkanya. Walaupun Habib Umar Bin Hud Al Athos sudah lama Wafat namun ajaranya tidak pernah hilang ditelan bumi . Murid dan pra pecinta Habib Umar Bin Hud Al Athos selalu senantiasa untuk mengamalkan ajaran dan wejangan yang pernah diberikan oleh Beliau. Dan senantiasa untuk mendakwahkan ajaran beliau sesuai dengan ajaran Baginda Nabi besar Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *