Mengenal Sosok Alm Al-Habib Thohir bin Abdullah al-Kaaf (Tegal)

ZONAINDONESIA.ID, JAWA TENGAH- Innalillahi Wa Inna ilaihi Rajiun, telah kembali keharibaan Allah SWT,dalam usia 60 tahun.
Pejuang dakwah yang berani dan tegas Al Habib Thohir bin Abdullah bin Ahmad Al Kaff pada hari Kamis malam jumat ,
18 Rabiul Akhir 1442 H bertepatan tanggal 03 Desember 2020.

Sosoknya tinggi besar dan penuh wibawa. Gaya berdakwah da’i yang satu ini sangatlah khas. Kalau sedang berbicara di atas panggung, suaranya bariton dan begitu menggelegar. Pidatonya sangat berapi-api penuh semangat, sehingga da’i yang satu ini terkesan angker. Orasinya terkesan galak, penuh nada kritik namun bertanggung jawab, sehingga dalam setiap pengajian yang diisi olehnya, ribuan jama’ah betah mendengarkannya hingga acara pengajian berakhir. Namun dibalik itu semua, ia adalah seorang yang berhati lembut, bertutur kata pelan, penuh canda dan sangatlah bersahaja.

Dia adalah al-Habib Thohir bin Abdullah al-Kaaf, salah satu keluarga al-Kaaf yang paling keras dalam berdakwah dari tujuh bersaudara anak lelaki al-‘Allamah al-Habib Abdullah bin Ahmad al-Kaaf. Sebagai juru dakwah, pria kelahiran 15 Agustus 1960 M, ini dikenal sangat konsisten dalam membentengi umat dari pendangkalan akidah, terutama oleh berkembangnya aliran sesat di Indonesia.

Nama al-Habib Thohir dikenal oleh kaum muslimin diberbagai daerah di Indonesia. Maklum, sosoknya selalu menghiasi berbagai pertemuan-pertemuan yang bersifat keagamaan, baik dalam majelis haul ataupun majelis-majelis lainnya.

Al-Habib Thohir mendapatkan pendidikan agama pertama kali dari ayahnya, al-Allamah al-Habib Abdullah bin Ahmad al-Kaaf, yang dikenal sebagai tokoh ulama di Jawa Tengah. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di SD dan SMP al-Khairiyyah yang berada di Kota Tegal. Baru pada tahun 1980 M, bersama adiknya, al-Habib Hamid (Seorang mubaligh dan pengasuh Pondok Pesantren al-Haramain asy-Syarifain yang berada di Cilangkap, Jakarta Timur.) ia berangkat menuju Makkah al-Mukarramah dan melanjutkan studinya dibawah bimbingan al-‘Allamah Prof. Dr. as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, seorang tokoh ulama yang berada di Hijaz. Disana ia belajar selama enam tahun.

Atas izin dari as-Sayyid Muhammad al-Maliki, pada tahun 1986 M, ia kembali pulang ke Tanah Air. Sepulangnya dari Makkah, ia ditunjuk oleh beberapa pesantren untuk menjadi tenaga pengajar. Karena dorongan dan semangatnya yang begitu menggelora, akhirnya ia memutuskan untuk terjun ke medan dakwah.

Kini, meskipun berkeluarga di Kota Pekalongan, ia lebih banyak untuk membina umat dengan mengadakan majelis taklim di Kota Tegal, khususnya di Masjid Zainal Abidin yang terletak di jalan Dukuh. Majelis itu ia beri nama Majeis Taklim Zainal Abidin. Ia berharap, Pesantren Zainal Abidin, yang sejak lama digagasnya, akan bisa dibangun di Kota Tegal. Sebab sudah sangat banyak para orang tua yang ingin menitipkan anak-anaknya kepadanya. Namun, cita-cita itu tampaknya masih akan lama terwujudnya, sebab padatnya jadwal dakwahnya.

Ketika disinggung dengan isu aktual dalam dakwah, al-Habib Thohir dengan penuh semangat menyatakan bahwa tantangan terberat dalam umat Islam saat ini adalah pendangkalan akidah lewat beberapa aliran sesat. “Berdakwah menurut saya, sebenarnya lebih dari gerakan moral. Sebab saat ini umat Islam di Indonesia khususnya masih sering terjebak gerakan aliran sesat. Oleh karenanya, dakwah saya menyoroti tentang masalah akidah, terutama tentang fenomena banyaknya aliran sesat yang terus berkembang ini.”Ungkap al-Habib Thohir tentang pilihan dakwahnya.

“Jadi kalau al-Habib Rizieq memerangi kemaksiatan lahiriyah, seperti perjudian, mabuk-mabukan, pelacuran dan berbagai aktifitas kemaksiatan yang lainnya, kalau saya lebih banyak memerangi kemungkaran dalam akidah yang diakibatkan oleh aliran sesat.”Ujar ayah lima anak ini.

Hampir dalam berbagai aktifitas dakwahnya, entah dalam kesempatan majelis taklim, majelis haul, ataupun seminar ilmiah, ia selalu memperingatkan beberapa metode penyesatan yang dilancarkan oleh aliran-aliran sesat kepada kaum muslimin, khususnya yang berada di Indonesia. Sebab Islam di Indonesia ini adalah warisan Wali Songo, yang berpegang teguh pada ahlussunnah wal jama’ah.

“Sekarang yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga akidah. Karena jangan sampai ketidaktahuan kita tentang prinsip-prinsip pokok akidah ahlussunnah wal jama’ah menjadi sasaran empuk bagi para propagandis aliran-aliran sesat yang ingin merusak pokok-pokok kepercayaan umat Islam.” Kata al-Habib Thohir mengingatkan.

Al-Habib Thohir juga mengharapkan, para ulama dan cendikiawan mempunyai sikap serta kepedulian untuk membentengi umat Islam dari kerusakan akidah. Kepada sesama penganut faham ahlussunnah wal jama’ah, diharapkan tidak perlu lagi berdebat soal masalah furu’iyyah. (Permasalahan cabang dalam agama, diantaranya: status hukum maulid, tahlil, haul, qunut, talqin, dan lain sebagainya.)

“Jangan dianggap bahwa orang-orang yang menjalankannya tidak mempunyai dalil dan argumentasi. Dan sewaktu berdebat dengan orag-orang semacam ini berarti berhadapan saudara kita sendiri. Perlu diketahui, bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia adalah berfahamkan ahlussunnah wal jama’ah, yang senang tahlil, maulid, haul, dan lain sebagainya. Nah dakwah semacam ini pastilah akan mendapatkan tantangan. Contoh di Kota Mataram beberapa waktu yang lalu, sebuah pondok pesantren dibakar, karena melarang dan mengharamkan talqin kepada mayit. Nah hal ini apabila kita tidak bersikap bijaksana, maka bisa jadi timbul ditempat yang lain.” Kata al-Habib Thohir dengan nada penuh prihatin.

Al-Habib Thohir menambahkan, bahwa perdebatan persoalan furu’iyah semacam ini sebaiknya segera diakhiri. Mengingat didepan kita saat ini ada musuh yang siap menunggu kelengahan kita dan segera menyantapnya. Menurutnya, perdebatan-perdebatan semacam itu sangat kontra produktif bagi umat Islam.

“Disaat kita membutuhkan energi, kekuatan, dan ilmu kita untuk sesuatu yang sangat berbahaya menimpa umat, terutama aliran-aliran sesat, kita kok masih berdebat soal khilafiyah.” Ujar sang ‘Singa Mimbar’ ini.

Karena panggilan rasa persatuan dan kesatuan itulah, al-Habib Thohir senantiasa menggandeng semua pihak untuk dapat duduk bersama serta bahu-membahu dalam membangun dan berdakwah untuk umat.

“Jadi aliran sesat dan faham-faham diluar Islam, seperti sekulerisme, pluralisme, liberalisme, dan apapun namanya perlu diluruskan. Karena ini dapat merusak akidah umat Islam, karena faham-faham ini dapat mengarah kepada pemurtadan. Alasannya sudah cukup kuat, yaitu berupaya meragukan kaidah-kaidah keislaman kita.” Kata al-Habib Thohir dengan tegas.

Namanya semakin melambung, ketika ia menjadi nara sumber dalam seminar yang bertajuk ‘Seputar Akidah Syi’ah’ di aula utama Masjid Istiqlal Jakarata pada tahun 1997 M, yang diikuti para tokoh ulama dan cendekiawan negeri ini, diantaranya adalah KH. Hidayat Nur Wahid (Mantan ketua umum MPR periode 2004 M.) Dan sikapnya ini terus berlanjut dengan berbagai seminar yang diikutinya baik didalam maupun diluar negeri.

“Nabi Muhammad saw memerintahkan kita untuk bangkit, tidak tinggal diam. Mana yang akan bangkit? Siapa yang akan berjuang dan menentang arus ini? Kalau bukan para ulama.” Ujar al-Habib Thohir menanggapi beberapa orang yang kurang setuju dengan sikapnya.

Selain berdakwah dengan pidato-pidatonya yang kerap menolak aliran sesat, al-Habib Thohir juga banyak melahirkan karya tulis. Namun walaupun begitu, ia merasakan lebih mantap untuk menjelaskan kepada umat untuk berdakwah dengan menggunakan lisan, (Dakwahbillisan.) sebab menurutnya, umat belum terbiasa untuk membaca buku.

Ia juga menyesalkan lambannya penanganan yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga keagamaan. Padahal menurutnya, gerakan aliran sesat hingga saat ini terus berjalan merayap memasuki barisan kaum muslimin.

“Disaat orang lain diam dan tertidur, saya katakana, saya siap menyediakan diri dan pasang dada untuk menghadapinya, sekalipun saya harus menghadapinya seorang diri.” Ujarnya dengan mantap.

Ketika disinggung tentang maraknya terorisme yang imbasnya banyak menimpa umat Islam, maka dengan keras dan tegas al-Habib Thohir menentangnya seraya mengatakan:“Islam tidak mengenal terorisme, keberadaan orang-orang yang melakukan kegiatan teroris sangatlah merugikan citra dan wajah Islam. Sehingga dilihat, seakan-akan Islam itu kejam, bengis, keras, jahat, tidak mengenal kasih sayang.” Ujarnya dengan nada tinggi.

al-Habib Thohir sendiri pernah merasakan suatu imbas dari perbuatan terorisme ini. Ia mengisahkan, bahwa dirinya pernah diintrogasi oleh petugas intelejen imigrasi di perbatasan antara Malaysia dan Singapura. Kisahnya bermula ketika ia mendapat undangan untuk mengisi acara haul di Masjid Ba’alawi Singapura.“Selama dua jam saya diintrogasi dan dicerca puluhan pertanyaan. Melihat pakaian saya ini, mereka mengira saya bagian dari antek teroris. Selama dua jam, saya ditanya hal ini itu, hingga menanyakan isteri, anak, pendidikan, dan segala macam yang berkaitan dengan kegiatan dan aktifitas saya. Itulah salah satu imbas terorisme yang pernah saya alami.”Kisah al-Habib Thohir.

Bahkan hal itu tidak hanya terjadi ketika di Singapura. Ketika pulang ke Tanah Air pun, ia masih merasakan efek terorisme itu. Ketika masuk bandara, hotel, mall, ia selalu diperiksa dengan ketat. “Semua ini karena ‘efek samping’ perbuatan dari saudara-saudara kita yang salah sasaran. Dan justru hal ini menjadi sebuah kesempatan bagi orang-orang diluar Islam untuk menjelek-jelekkan citra Islam dihadapan dunia.”Komentarnya mengenasi permasalahan terorisme.

Karenanya, untuk menyudahi persoalan terorisme, al-Habib Thohir menghimbau agar umat Islam untuk mendefinisikan kembali akan makna dan hakekat jihad. Menurutnya, terror bom yang selama ini marak, hanya akan mengganggu tatanan kehidupan umat manusia. Jihad merupakan sarana dakwah, bukan tujuan utama, sehingga harus dilaksanakan secara baik, bermanfaat luas, dan jauh dari sifat-sifar anarkisme serta kejerasan sebagaimana yang terjadi selama ini.

Jihad itu memiliki aturan main yang sangatlah luas dan bijaksana. Jadi berjihadlah sebagaimana yang dilakukan dan telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. “Kapan kita harus berperang? Kepada siapa kita berperang? Siapa saja yang boleh kita perangi? Kaum wanita, anak-anak, orang yang sedang beribadah sekalipun ia non muslim, binatang, semuanya ini tidak boleh disakiti, apalagi dibunuh. Bahkan pohon-pohon dan barang-barang tidak boleh dirusak.” Kata al-Habib Thohir tentang memaknai jihad.

Pada malam jumat,
18 Rabiul Akhir 1442 H bertepatan tanggal 03 Desember 2020 M
Sang Singa Mimbar Al Habib Thohir di usia yang ke 60 ,telah kembali kepada Allah, datuknya Rasulullah Nabi Muhammad SAW telah menunggu beliau di telaga Al Kausar , Allahumma Sholi Ala Sayyidina Muhammad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *