PENYEBAB SEMUA NEGARA MENJADI ATHEIS DAN OTORITER

ZONAINDONESIA.ID- Negara adalah suatu Organisasi Besar, sistem adalah pijakan dasar (Visi Misi) Negara dalam mengatur kehidupan manusia. Karena itu Negara dan Sistem suatu kesatuan yang tidak bisa dipisah. Dan sekarang ini sebagaimana yang kita lihat, bahwa secara De Fakto semua Negara menganut sistem Materialisme Monopolisme.
Terkait hal itu kalau boleh saya gambarkan; Negara dan sistem Materialisme Monopolisme itu ibarat sebuah “Dokar yang melaju kencang ditarik oleh Seekor Kuda Betina Liar”. Sebaik apapun skill si Kusir tetap akan selalu pasti terbawa emosi larinya si Kuda. Dan saking binalnya si Kuda, maka Dokarpun menjadi oleng tidak karuan hingga banyak menabrak hal-hal yang mestinya tidak boleh ditabrak.
Padahal sebelumnya Dokar itu telah lengkap dihiasi berbagai aksisoris (Asas/Konstitusi) dengan harapan dipastikan bisa melaju dengan Tenang Aman Nyaman. Namun ternyata semua harapan itu menjadi sirna seketika, bahkan aksesoris-aksesoris yang terpampang di Dokar pun menjadi kurang begitu keperhatikan oleh si Kusir akibat saking vokusnya memegang Tali Kekang si Kuda Liar. Lalu masalahpun bertambah rumit, karena Dokar yang penuh aksesoris (Asas/Konstitusi) itu malah menjadi ajang perdebatan tiga pihak yang tidak pernah usai.
Yang kontra pada si Kusir, dengan berbagai kepentingannya mereka selalu mengkritik bahkan menuduh si Kusir konon “kurang punya kompetensi dalam melaksanakan TUPOKSI”, seolah-olah mereka peduli pada nasib rakyat. Yang pro pada si kusir, dengan berbagai kepentingannya mereka membela mati-matian dan lantang mengatakan bahwa apa yang diperbuat si Kusir konon “telah sesuai aturan yang berlaku”. Namun faktanya dilain pihak rakyat selalu menjerit kesakitan sehingga terpaksa mereka teriak melakukan aksi demonstrasi karena antara janji-janji si Kusir dan para pembelanya nyata bertolak belakang.
Kemudian masalahpun semakin rumit, yaitu karena saking pusingnya si Kusir mendengar ocehan-ocehan para pengkritik pendemo, yang banyak menghambat pada pelaksanaan program-program penting bagi Negara, maka dengan terpaksa tidak ada pilihan lain akhirnya si Kusir memutuskan akan menghardik memenjarakan siapa saja yang tidak mendukung kebijakannya dengan sikap Otoriternya.
Kenapa bisa demikian..? semua Negara punya banyak program yang harus berjalan sesuai skedul. Dalam hal ini otomatis, karena Negara punya targetan-targetan yang harus dicapai, maka sudah pasti Negara sangat tidak mau kalau apa yang menjadi rencana-rencana (kebijakan)-nya harus banyak mendapat hambatan dari pihak-pihak yang Kontra. Yang sekalipun alasan obyektifnya karena kebijakan-kebijakan itu jelas melanggar asas-asas kemanusian, atau dalam arti melanggar batas nilai-nilai kebenaran yang merupakan simbol dari sifat sifat ke-Tuhanan. Dalam persoalan seperti ini nyaris semua Negara suka senantiasa memaksakan kehendak (Otoriter/sewenang-wenang).
Kesimpulannya; bahwa sikap Otoriter itu muncul dari akibat Negara sendiri yang secara terpaksa harus melakukan kebijakan yang Kontroversial dengan Asas-asa Kemanusiaan yang merupakan ranah Kodrat Sang Pencipta Hidup. Oleh karena itu sehingga sikap otoriter itu bisa disebut suatu watak Negara yang lahir secara alami yang merupakan perwujudan dari sistem Materialisme Monopolisme.
Fakta seperti itu membuktikan bahwa slogan-slogan DEMOKRASI seperti “Dari Rakyat Oleh Rakyat Untuk Rakyat”, serta seperi “Bebas Berkumpul Berpendapat Berserikat” itu semua menjadi Nonsens. Dan itu akibat sifat alamiahnya sistem Materialisme Monopolisme akan selalu pasti memaksa setiap penguasa supaya bersikap Otoriter serta supaya berpegang teguh pada prinsip-prinsip Machiavellime. Yaitu suatu paham yang bersifat penentangan terhadap nilai-nilai kebenaran yang mutlak sebagai simbol dari sifat-sifat ke-Tuhanan.
Prinsip-prinsip Machiavellime itu muncul manakala Negara didesak oleh kebutuhan untuk Memperkuat serta Melanggengkan eksistensi kekuasaannya. Contoh; akibat didesak oleh berbagai kebutuhannya, maka dengan terpaksa Negara Si Pulan melakukan Agresi ke Negara si Badul dengan berbagai alasan yang initinya bertujuan untuk menguasai SDA-nya dengan Mindset politik Monopolisme-nya. Perilaku seperti demikian dalam kehidupan sekarang nampak seperti sudah dianggap wajar terlebih oleh para kepala Negara. Padahal secara KEMANUSIAAN jelas itu adalah perbuatan yang melanggar batas nilai-nilai kebenaran yang mutlak diyakini oleh setiap diri manusia. Tapi faktanya Negara si Pulan sebagai pelaku agresor tetap memaksakan kehendak sekalipun banyak mendapat kecaman yang umumnya disuarakan oleh rakyat biasa.
Kenapa yang menyuarakan protes itu umumnya rakyat biasa..? karena merasa tidak punya beban. Beda dengan para kepala Negara, dalam melihat peristiwa seperti itu nyaris semua lidah-lidah Mereka seperti keluh terkunci. Yang sudah barang tentu alasannya merasa tidak ETIS kalau harus ikut-ikutan mengecam seperti apa yang dilakukan oleh umumnya rakyat, yaaah kalau bukan sekedar kecaman-kecaman formalitas. Kenapa..? sebab semua para kepala Negara masing-masing punya Kartu Truf, yang kalau semua dibuka, maka Aib-aib Mereka menjadi terborkar. Karena itu sekeras apapun suara kecaman-kecaman yang diteriakan PBB akan selalu pasti seperti derasanya busur-busur panah yang meleset jauh dari sasaran. Buktinya “sekalipun seribu anjing terus menggonggong namun tetap saja para Agresor melenggang santai berjalan menuju tujuan”.
Pendek kata jelasnya bahwa dalam melihat kejadian seperti itu (Agresi) nyaris semua kepala Negara seperti Tutup Mata Tutup Telinga alhasil seperti tidak peduli dan membiarkan, padahal jelas perilaku itu sangat merugikan Negara orang, entah itu kerugian secara materi maupun Non materi (Harta dan Jiwa). Kenapa bisa demikian..? karena memang watak semua penguasa di Negara manapun sama. Artinya setiap Negara bisa dianggap sah-sah saja untuk melakukan Agresi selama dirinya mampu. Dan hal itu secara implisit sudah dipandang sesuatu yang logis dikalangan para penguasa. Meski secara eksplisit seluruh masyarakat dunia telah sepakat berkomitmen untuk “menghapus semua bentuk penjajahan di Muka Bumi”. Karena itu diakui atau tidak bahwa Agresi yang dilakukan oleh Negara Si Pulan itu adalah merupakan tindakan Otoriter yang sekaligus merupakan bentuk Manifestasi Machiavellisme. Itulah fakta masalah yang secara alamiah menyebabkan semua Negara menjadi Atheis dan Otoriter. “Atheis” oleh karena senantiasa tidak mengindahkan Asas-asas Kemanusiaan yang merupakan Ranah Kodrat Sang Pencipta Hidup (Wilayah Kekuasaan Tuhan).
Oleh : asep masko
Catatan, forum kajian tajug kuring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *