Siapah Sangka Seorang Prajurit Negara InI Berhasil Memecah Teka-Teki Dunia Pertanian..!!!

ZONAINDONESIA.ID, JAKARTA- Tingginya harga pupuk, pestisida dan insektisida menjadi salah satu faktor yang membuat banyak petani mengeluh.

Purnawirawan TNI AL ini bernama Arfian Noer, mengatakan bahwa meningkatnya biaya saprodi (sarana produksi) memang sangat meresahkan petani. Pasalnya ini bisa mengakibatkan tingginya harga pokok produksi petani dan rendahnya keuntungan yang diperoleh petani. Jika ini tidak segera ditemukan solusinya, bagaimana nasib petani dan bangsa kita nantinya?

Kemampuannya dalam menjelaskan beberapa permasalahan pertanian memang sangat luar biasa, mungkin jika orang baru mengenalnya, akan terkesan seorang intruktur pertanian yang ahli dibidangnya.

Dalam perbincangan, Arfian menceritakan awal mula ketertarikannya terhadap dunia pertanian.

“ Waktu itu saya ditugaskan untuk ikut pelatihan selama sebulan di Bandung, disana cakrawala saya tentang dunia pertanian makin terbuka. Awalnya memang topik terbesar yang kami bahas disana adalah keamanan pangan. Keamanan pangan sendiri itu satu tingkat diatas topik ketersediaan pangan tetapi untuk mewujudkan keamanan pangan dan ketersediaan pangan kita perlu sebuah sistem bertani yang mampu mewujudkan hal itu. Oleh karena itu saya mencoba meracik sebuah konsep Bertani yang mampu menjaga keamanan pangan, ketersediaan pangan, dan petani juga bisa sejahtera” Ujar Arfian kepada awak media.

Pak Arfian menawarkan sebuah konsep pertanian organic, melalui sebuah perusahaan Sociopreneur Bernama CV. AGRO KANAIAN SEJAHTERA dengan visi “Kami Hadir untuk Menjaga Keamanan Pangan dan Kelestarian Lingkungan”.
Permasalahan apa yang ingin dipecahkan?

Hal pertama yang disinggung oleh Arfian adalah kesejahteraan. Menurutnya kunci utama mensejahterakan petani itu ada pada bagaimana kita mampu menurunkan HPP (Harga Pokok Produksi). Ada dua biaya yang sering kita perbincangkan yaitu fix cost dan variable cost. Beliau mengatakan biaya bibit, tenaga kerja sangat sulit untuk diturunkan, katakanlah ini sebagai fix cost/biaya tetap, sedangkan ada biaya saprodi (sarana produksi) seperti biaya pupuk, pestisida dan herbisida yang selanjutnya beliau menyebutnya variable cost/biaya variable.

Arfian mengatakan, jika biaya saprodi ini bisa ditekan maka petani akan sejahtera. Konsep kesejahteraan petani yang beliau pahami sangat berbeda dari kebanyakan orang yang berpemahaman bahwa harga gabah harus dibeli dengan harga tinggi, tetapi beliau mengutarakan konsep yang berbeda yaitu jika HPP (Harga Pokok Produksi) bisa ditekan maka saat itulah kita sejahtera,”ucapnya.

“Jika HPP (Harga Pokok Produksi) bisa ditekan maka saat itulah kita sejahtera” Arfian Noer(Formulator Le Guna).

Menurutnya menaikkan harga jual padi hanya akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar. Jika padi mahal, otomatis harga jual beras juga mahal, begitu harga beras mahal, ini akan berimbas pada menurunnya daya beli beras di tingkat masyarakat.

Sedangkan beras termasuk kedalam salah satu bahan pokok yang dijaga harga dan ketersediaanya oleh pemerintah. Jika beras mahal, dapat dipastikan kelaparan akan terjadi dimana-mana. Oleh karena, itu beliau lebih setuju jika saat ini kita berupaya menurunkan HPP ditingkat petani. Ia juga mengatakan bahwa sampai saat ini kita masih kalah dengan produksi padi di Negara Thailand, buktinya kita masih impor dan bukan hanya itu harga beras di Thailand juga lebih murah, Jika di Thailand kita bisa membeli beras dengan harga Rp.5000/kg bagaimana dengan Indonesia? Kita ini mahal berasnya, HPP tinggi, sejahtera juga tidak, Ini ibarat jatuh lalu tertimpa tangga.

Tidak hanya disitu beliau juga menyinggu tentang keamanan pangan. Baginya menjaga keamanan pangan mempunyai peran penting dalam menjaga keberlangsungan sebuah bangsa. Bangsa yang kuat tentu mampu menjamin ketersediaan pangan untuk rakyatnya, tetapi itu tidaklah cukup, bukan hanya “tersedia’ tetapi juga harus “aman” di konsumsi.

Menurut data terbaru yang dikeluarkan oleh WHO ada 600 juta kasus penyakit yang timbul disebabkan oleh tidak amanya pangan yang dikonsumsi. Menurutnya dari hasil riset yang pernah di bacanya juga tidak kalah menakutkan, beberapa penemuan di beberapa daerah tingkat residu kimia sudah mencapai 25% sedangkan angka maksimal sekitar 12%.
Solusi yang ditawarkan

Pada dasarnya Arfian setuju pada satu kata “Back to Nature, Back to Organic” dari sini beliau mengajak untuk beralih pada cara bertani yang ramah lingkungan, dengan tidak memakai pupuk, pestisida dan herbisida berbbahan kimia sintetis.

Namun, untuk sepenuhnya beralih pada pertanian yang organik, ini tentu membutuhkan waktu, kerja lebih Panjang, modal tambahan, harus belajar kembali tentang bagaimana meracik pupuk, pestisida dan herbisida secara organik. Sehingga kebanyakan petani akan mengeluh dan tidak sanggup untuk menjalankannya.

Nah disinilah sebenarnya Pak Arfian menawarkan konsep pertanian organic dengan mengaplikasikan produk Le Guna yang telah diteliti beberapa tahun terakhir. Dengan menggunakan Le Guna petani sebenarnya telah mendapat sebuah inovasi yang murah dan tepat guna sehingga petani tidak lagi harus menghabiskan waktu, tenaga dan finansial terlalu banyak.(Rsd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *