Sampahku Tanggung Jawabku

ZONAINDONESIA.ID-    Oleh : Dyah Bunda Salman

“Ayah ngapain sih?”
Agak tinggi sepertinya nada suara saya melihat yang ia kerjakan. Lagi-lagi ia masih memungut plastik dari jalan dan mencucinya di rumah.
“ga usah marah, kasih Ayah keleluasaan ngerjain yang Ayah yakini”
Jawabnya datar. Ada rasa gusar di sana, pertanyaan saya diartikannya sebagai tanda keberataan. Padahal..iya. hehe. Saya keberatan. Tak nyaman melihatnya melakukan hal itu. Heran, kenapa tak cukup memungut dan lempar ke tong sampah? Kenapa harus dibawa pulang, dicuci, lalu dimasukkan ke botol? Duh kerajinan. Apa itu namanya kemarin dia bilang? ecobrick? Penasaran saya pun dimulai.

Usaha pencarian tentang info ecobrick di sambut google dengan membanjiri notifikasi saya dengan artikel berkaitan sampah rumah tangga. Ancaman hingga bencana yang disebabkannya. Tahu kan, TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Leuwi Gajah di Jawa Barat pada tahun 2015 yang meledak kemudian longsor hingga menelan korban ratusan jiwa? Lalu apa kabar sampah yang tak sampai di TPA? Yang tercecer di daratan dan bertualang di laut. Seandainya mereka bisa diminta pulang kepemiliknya, mungkin dada tak perlu sesak melihat kenyataan sekarang.
Ya, hewan-hewan darat dan burung-burung (termasuk Albatros) yang ditemukan mati dengan koleksi sampah plastik di perutnya, atau hewan laut yang mati tersiksa karena sampah, tak terhitung jumlahnya. Bahkan menurut para ahli kelautan, tahun 2050 nanti diprediksi sampah plastik di laut akan lebih banyak jumlahnya dibanding ikan. Membayangkan bencana yang akan terjadi jika perilaku kita tak berubah, sukses membuat saya galau.

Galau itu kemudian naik kelas karena isu yang lebih hot di manca negara. Climate change, alias perubahan iklim yang kini sedang ramai diperjuangkan oleh saudara-saudara kita yang peduli dengan kelangsungan bumi. Saya tidak ingin membahas ini. Karena informasi di media cukup banyak untuk membuat kita terbelalak. Ini berkaitan dengan pemanasan global, dan itu sudah saya dengar sejak SMA. Berarti 23 tahun yang lalu. Tentang kerusakan lapisan ozon. Namun, mengapa saya merasa isu akhirnya seperti dongeng ya? Apa iya kesadaran itu harus datang terlambat?.
Kini kita dapati fenomena yang lebih mengiris hati. Beruang-beruang yang sekarat karena tempat tinggalnya menghilang. Es berganti karang. Otomatis tak ada makanan. Kutub mencair dalam waktu cepat, ekosistemnya makin sekarat.

Kita pun mulai menyadari curah hujan yang sangat tinggi. Ekstrim melebihi sebelumnya. Banjir melanda banyak area. Musim mulai tak terprediksi. Kemarau pun makin panjang. Lalu banyak lagi.
Ini adalah salah satu tanda ada yang tidak beres dengan Bumi dan juga lapisan diatasnya. Karena ulah manusia. Horor ya. Kebiasaan dan perilaku kita selama ini tak mencerminkan ‘Manusia adalah khalifah Bumi’ seperti yang Allah tetapkan.

Mengingat cara kita memperlakukan sisa konsumsi selama ini, sudah cukup mengaktifkan sinyal ‘rasa bersalah’. Selama ini kami berpikir membuang sampah pada tempatnya sudah cukuplah. Tak sangka dampaknya bisa kemana-mana.
Mau tak mau saya mulai berpikir, harus bagaimana ini?
Saya mulai diskusi dengan suami yang sudah kenyang diomeli. Tanggapannya? “sudah gerah dengan sampah? Syukuri, itu sudah maju selangkah!” haduh.
Baca buku “Menuju Rumah Minim Sampah”nya mbak DK.Wardhani yang ia sodorkan cukup menginspirasi saya. Teori 3AH (Cegah, Pilah dan Olah) yang ditawarkan untuk mengelola sampah sepertinya harus kami terapkan bersama, Nasehat Aa Gym tentang 3M-pun (Mulai dari yang mudah, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari sekarang) menjadi solusi.

Mulai dari yang Mudah.
Baiklah. Stop Pospak (popok sekali pakai) si kecil. Ini limbah yang jika dibuang akan terurai dalam 350 tahun. Jadi yang buang sudah jadi fosil, limbah ini masih eksis merusak tanah dan air.
Sebenarnya kami juga punya clodi (cloth Diaper) yang fungsinya sama seperti popok sekali pakai namun bisa dicuci dan dipakai berulang-ulang sebagai alternatif pengganti pospak. Namun karena niat penggunaannya adalah semata untuk penghematan, maka seiring waktu godaan praktis dan instan menjadi pemenang. *Ampun Ya Allah.

Maka saya segerakan toilet training. Usianya sudah 21 bulan saat itu. Melihat banyak ibu-ibu yang melakukan tolet training jauh sebelumnya, otomatis saya makin semangat. Saya akui mereka adalah ibu-ibu hebat yang kesabaran dan ketelatenannya tak diragukan. Kepada mereka semoga Allah limpahkan keberkahan.

Kami pun jalani diet plastik. Saya mulai ikuti jejak baik si bapak. Cuci, keringkan dan jadikan ecobrick. Meski pada akhirnya dengan beberapa alasan, kami putuskan mengirim sampah plastik dan sampah jenis lainnya ke pengepul untuk diolah.

Belajar minim sampah ini menyadarkan kami tentang banyak hal. Mengajarkan kepada kami tentang rasa syukur, melatih kami menjadi tim yang saling menguatkan, menumbuhkan keyakinan bahwa selalu ada kemudahan saat kita memulai langkah yang baik. Kemudian merefleksi diri yang sudah setengah abad numpang di Bumi tapi tukang nyampah. Bahkan baru tahu kalau sampah rumah tangga pun ada UU dalam pengolahannya. Waduh, selama ini kemana saja?

Kami belajar minim sampah, belajar zerowaste , atau meniadakan sampah yang sampai ke TPA, dan melibatkan anak untuk semua kegiatan ini.
Ribet? Pastinya. Haha. Tapi ada masanya kami mulai terbiasa. Yang pasti, kebahagiaan kami jadi terasa begitu sederhana. Melihat plastik yang dijemur sudah kering dan bersih, bahagia. Melihat sampah organik di komposter sudah siap panen, bahagia. Melihat anak sibuk memasukkan sampah plastiknya ke dalam ecobrick, bahagia banget tentunya.

Seorang kawan meyakini, bahwa memberi pengertian dan merubah perilaku anak terkait kesadaran lingkungan lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Meski tantangannya juga berat. Hihi. Bingung kan. Cepat tapi berat.
Salah satu pengalaman kami, saat mengajarkan konsisten untuk berhenti menggunakan sedotan plastik dan menggantinya dengan yang reusable.
“Mas, sampah sedotan ini sehari kalau dikumpul dan dibariskan setara dengan jarak Jakarta sampai Meksiko. Tahu ga kalau sepekan? Sama dengan jarak kita mengelilingi bumi 3 kali!”
“jadi kita bisa naik sedotan ke langit ya bunda? Ga usah pakai pesawat?” jawabnya dengan mata berbinar. :D. Haha tak apalah. Obrolannya kejauhan untuk anak seusianya. Setidaknya dia tidak bertanya, “siapa yang kurang kerjaan barisin sedotan sampai luar negeri?” 😀 duh, saya bisa garuk-garuk tembok saking gemasnya .

Efek dramatis muncul saat saya berikan video kura-kura makan plastik dan hidung penyu yang tersumbat sampai menembus otaknya. Dia menangis. Saya juga.
“aku ga mau pakai sedotan plastik. aku mau pakai sedotan stainlees aja bundaa..” Alhamdulillah. Yang kami butuhkan adalah konsisten. dalam mengingatkan dan memberi teladan.
Deretan tugas sebagai khalifah bumi ini sangat panjang. Ini tak mudah. Itulah pentingnya kita (orangtua) saling menguatkan. Karena bisa jadi tak semua bisa kita sampaikan karena banyaknya keterbatasan. Atau tak kesampaian, karena sudah ‘game over’duluan. Kita sadari, lingkungan main termasuk tantangan besar untuk kita. Meski ini bisa menjadi salah satu sarana mengevaluasi pengasuhan yang kita terapkan. seperti, sekuat apa sih anak ini memegang prinsipnya?
Adalah benar, kita butuh sama-sama bergerak dalam kebaikan. Agar lingkungan turut menyelarasi usaha kita. Apapun hasilnya hanya kepada Allah-lah kita serahkan. Tugas kita adalah mendidik tanpa mengenal tanda titik, Memberi teladan tanpa rasa bosan, dan mencari hiburan dalam sujud-sujud yang panjang.
Semoga kelak kita termasuk orang yang Allah selamatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *