Ecoterorist dan Peran Umat Islam Dalam Penyelamatan Lingkungan

ZONAINDONESIA.ID– Oleh : Agus Fatah (Pegiat Lingkungan)

Kerusakan lingkungan di daratan dan dilautan akibat ulah manusia yang tak bertanggung jawab baik ditingkat lokal, regional bahkan internasional merupakan sebuah kejahatan berat terhadap lingkungan. Pelakunya boleh disebut sebagai terorist lingkungan (Ecoterorist).

Istilah Ecoterorist pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Dr. KH. M.Abdurrahman, MA seorang pakar hadits berwawasan lingkungan yang banyak mengkaji dan mendalami pesan pesan penyelamatan lingkungan dalam Al-Quran dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW.

Ecoterorist adalah pelaku perusakan lingkungan yang berdampak luas bukan saja pada lingkungan tapi juga pada manusia. Maka pelakunya berhak diberi gelar terorist lingkungan (ecoterorist) Kejahatan Ecoterorist lebih jahat dari pada pelaku teror yang kita kenal sebagai terorist. Jika terorist hanya fokus pada menghilangkan nyawa manusia, sedangkan ecoterorist bukan saja merusak ekosistem kehidupan (flora, fauna, gunung, sungai, danau, tanah, lautan dan udara) bahkan menghilangkan nyawa manusia dalam skala besar dan rentang waktu yang panjang. Perusakan hutan misalnya, tentu akan sangat merugikan bagi makhluk yang ada dihutan dan suku pedalaman yang tinggal di dalamnya. Polusi asap akibat pembakaran hutan akan sangat mengganggu lalu lintas penerbangan dan mengganggu kesehatan penduduk disekitarnya. Begitu juga perusakan laut akan sangat merugikan nelayan, bahkan memusnahkan keanekaragaman hayati dilautan. Oleh karena itu para perusak lingkungan berhak mendapat gelar terorist lingkungan : ecoterorist.

Pelabelan ecoterorist bagi perusak lingkungan untuk memberi efect psikologis, sosial dan sangsi moral bagi pelakunya sebagai penjahat lingkungan dan kemanusiaan yang harus dihukum lebih berat dari pelaku terorist. Undang-undang anti terorisme di republik ini harus memasukkan pasal perusakan lingkungan sebagai kejahatan terorist.

Peran Ummat Islam Dalam Menyelamatkan Lingkungan

Islam sebagai sebuah ajaran yang lengkap dan paripurna memberikan panduan bagaimana manusia seharusnya menjaga lingkungan dan memberikan mandat kepadanya untuk mengelola bumi dengan gelar khalifah fiil ardhi (wakil Allah) di bumi.

Dr. Mudhofir Abdullah dalam bukunya berjudul Al-Quran dan Konservasi menjelaskan
bahwa konsep khalifah fiil Ardhi (Wakil Allah) di bumi sebagaimana disebut dalam surah AlBaqarah ayat 30 bermakna Responsibilty. Peran sebagai wakil Allah di muka bumi hanya akan bermakna jika manusia mampu melestarikan bumi sehingga seluruh peribadatan dan amal-amal sosialnya dapat dengan tenang ditunaikan.

Ini masuk akal karena suatu ibadah atau pengabdian kepada Allah SWT dan manusia tidak dapat dilakukan jika lingkungan buruk atau rusak. Dalam kerangka pemikiran diatas, maka melindungi dan merawat lingkungan merupakan suatu kewajiban setiap muslim.

Setiap muslim dituntut untuk menunjukkan kesempurnaan keislamannya dengan menampilkan perilaku peduli lingkungan.
Jika setiap muslim peduli lingkungan, insyaallah masalah- masalah lingkungan akan lebih mudah teratasi. Kepedulian muslim pada lingkungan akan sangat menentukan kualitas lingkungan di NKRI kini dan nanti.

“Telah tampak kerusakan di darat dan dilautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS :Ar-Ruum : 41)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *