KISAH INDAH AL-IMAM SYAIKH IBNU HAJAR AL-HAITAMI DAN ISTRINYA

ZONAINDONESIA.ID- Syaikh Ibnu Hajar Al Haitami رحمه الله‎ hidup dalam kemiskinan selama 4 tahun,
Beliau tak pernah makan daging karena tak punya uang untuk membelinya,
walaupun sesungguhnya dia sangat menginginkannya.
Istrinya sejak lama ingin mandi di pemandian umum khusus air panas,
akan tetapi Syaikh Ibnu Hajar رحمه الله‎ tidak mampu membelikan tiket masuknya.

Istrinya Syaikh Ibnu Hajar sangat ingin ke pemadian umum khusus air panas,
Syaikh Ibnu Hajar رحمه الله‎ berkata kepadanya :
“Bersabarlah wahai istriku, saya kumpulkan uang dulu untuk ongkos masuk ke sana.”

Biasanya ketika Allah ﷻ membukakan rizki kepada Beliau,
maka disisakan sedikit sampai terkumpul setengah Riyal, lalu di berikan kepada istrinya.

Setelah uangnya terkumpul, istrinya pergi ke pemandian air panas,
ketika sampai disana dia meminta penjaganya untuk membukakan pintu untuknya tapi di tolak.

Penjaga berkata :
“Hari ini saya tidak akan membukakan pintu ini untuk siapapun,
karena istrinya Syaikh Al ‘Alim Al Faqih Muhammad Ar-Romli sedang berada
di dalam bersama para sahabatnya. Beliau berpesan untuk tidak membukakan pintu ini
untuk siapapun pada hari ini dan Beliau telah memberi kepada kami semua ongkos yang
biasa masuk kepada kami setiap harinya, yaitu 25 riyal.
Jika engkau ingin masuk ke pemandian datanglah besok pagi, kalau hari ini tidak bisa.”

Istrinya pulang menemui suaminya sambil mengembalikan uang setengah riyal dia berkata,:
“Sekarang ini yang mempunyai ilmu adalah Syaikh Muhammad Ar-Romli yang istrinya hari ini
masuk ke pemadian air panas dengan membayar 25 riyal dan
tidak mengizinkan seorangpun untuk masuk kesana.
Lalu mana ilmumu ? sudah fakir, kesulitan, susah payah sendiri dan tidak mendapat
sesuatupun dari ilmumu, ambillah uangmu yang kau kumpulkan berhari-hari ini”

Ketika Syaikh Ibnu Hajar رحمه الله‎ mendengar ucapan istrinya, Beliau berkata :
“Aku ini tidak menghendaki dunia dan ridlo atas apa yang Allah ﷻ tetapkan kepadaku di dalamnya,
sedangkan engkau jika menginginkan dunia, mari kita ke sumur zam-zam”.

Keduanya pergi kesumur zamzam, ketika sampai disana,
Syaikh menimba sekali, ternyata satu timba isinya penuh dengan uang dinar.

Beliau berkata : “apakah segini cukup ?”
istrinya berkata : “kurang.”

Syaikh menimba untuk kedua kalinya, ternyata isinya penuh dengan uang dinar lagi.
Beliau berkata : “apakah segini cukup?”
istrinya berkata : “aku ingin tiga timba.”

Syaikh menimba untuk yang ketiga kalinya dan isinya juga sama dengan sebelumnya.
Syaikh Ibnu Hajar رحمه الله‎ berkata kepada istrinya,:
Aku suka keadaan fakir berdasarkan pilihanku sendiri, kupilih untuk diriku sendiri apa
yang ada di sisi Allah ﷻ, adapun dunia maka semuanya sama bagiku, dunia lewat,
umurnya pendek dan kehidupannya hina, dan sekarang ini aku punya dua pilihan untukmu :
1. Kembalikan semua uang emas ini ke dalam sumur zam-zam dan
engkau masih bersamaku, atau
2. Kau bawa semua uang emas ini, kau pulang kerumah keluargamu dan
kau ambil talakmu dariku, karena aku tidak menginginkan dunia.

Istrinya berkata :
“Bagaimana kalau kita nikmati saja semua uang ini seperti yang dilakukan oleh orang-orang.”

Syaikh berkata :
“Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya,
bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu.”

Istrinya berkata :
“Bagaimana kalau kita kembalikan satu timba saja ke dalam sumur.”

Syaikh berkata :
“Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya,
bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu.

Istrinya bekata :
“Bagaimana kalau kita kembalikan dua timba dan yang satu timba kita simpan”.

Syaikh berkata :
“Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya,
bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu.”

Istrinya berkata :
“Kita ambil satu dinar saja untuk bersenang-senang hari ini.”

Syaikh berkata :
“Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya,
bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu”.

Istrinya berkata :
“Kita kembalikan semuanya ke dalam sumur, aku tidak ingin berpisah denganmu karena
kita sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Engkau telah memperlihatkan karomah ini
dan kita berpisah di hari ini? aku tidak mau”.

Aku memilih untuk bersabar saja bersamamu.
Aku semakin mantap hidup bersamamu, walau kita hidup dalam keadaan miskin.
Demi Allah, aku akan bersabar dengan segala kesulitan hidup ini,”

Al-Qur’an memperingatkan adanya fitnah istri, anak-anak dan harta benda yang bisa menjadi
sebab kelalaian dalam mewujudkan ketaatan,
dan terkadang menjerumuskan ke dalam kemaksiatan.
Sebagaimana dijelaskan oleh ayat berikut : Surat At-Tagabun Ayat 14

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada
yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan
jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka)
maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Catatan :
Nama lengkap :
Al-Imam al-Faqih al-Mujtahid Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali
bin Hajar as Salmunti al-Haitami al-Azhari al-Wa`ili as-Sa’di al-Makki al-Anshari asy-Syafi’i
atau lebih dikenal dengan Ibnu Hajar al-Haitami
Lahir di Mahallah Abi al-Haitam, Mesir bagian Barat, Rajab 909 H,
Wafat di Mekkah Rajab 973 H adalah seorang ulama dibidang fikih mazhab syafi’i,
ahli kalam dan tasawuf. (AH)

Semoga bermanfaat
Silahkan share

SUMBER :
Kitab Tuhfatul Asyrof & Kisah Sejuta Hikmah Kaum Sufi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *