SANTRI PASUNDAN DESAK BONGKAR MAFIA ANGGARAN DI KEMENAG

ZONAINDONESIA.ID, GARUT-Pemerintah melalui Kemenag telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 2,599 triliun untuk bantuan operasional pendidikan (BOP) kepada pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam di masa pandemi Covid-19.

Sekitar 21.173 pesantren akan mendapat bantuan tersebut.

Rinciannya, 14.906 pesantren kategori kecil (50-500 santri), 4.032 pesantren kategori sedang (500-1500 santri), dan pesantren kategori besar (lebih dari 1.500 santri).
Dari informasi yang dihimpun, bantuan Kementerian Agama untuk pesantren di Kabupaten Garut saja misal sekitar 657 paket. Jumlah tersebut terdiri dari BOP daring 268 paket, MDT 77 paket, TPQ 10 paket, PP kecil 295 paket , dan PP sedang 7 paket. Kalau ditotalkan, jumlah bantuannya mencapai Rp12.545.000.000.

Namun apa yang terjadi di lapangan, saat proses pencairan dana tersebut terjadi pemotongan anggaran oleh oknum-oknum yang mengatas namakan pengusung anggaran. Adapun potongannya variatif dari 20% hingga 70%.

Ketua Umum Santri Pasundan Aceng A Nasir mengaku pernah ditawari oleh seseorang sekitar 2 bulan lalu, untuk mengumpulkan data pesantren-pesantren yang berada di priangan timur untuk menerima bantuan tersebut dengan komitmen potongan sebesar 20 % sontak Aceng merasa kaget dan marah besar kepada oknum tersebut dan Aceng Nasir mengatakan “Kalian ini zolim, dan sampai itu terjadi saya akan membongkarnya” begitulah percakapannya dia sampaikan kepada orang yang menelfon tersebut dan mengatakan bahwa paket-paketnya sudah ada yang mengkondisikan.

Saat menerima kabar bahwa terjadi potongan anggaran di pesantren-pesantren bahkan ada yang mencapai 70% menurut Aceng Nasir ini sudah tidak bisa di tolelir lagi, Aceng meminta kepada semua pihak untuk memantau proses ini dan melaporkan kepada pihak berwenang agar dibongkarnya jaringan mafia anggaran yang merugikan masyarakat dan negara. “Saya tidak menutup mata dan sering mendengar banyak anggaran-anggaran yang di sunat untuk pelaksanaan di kementrian lain baik infrastruktur maupun dalam bentuk lainnya, tapi kalau untuk Santri dan anak yatim ini keterlaluan” bisa di bayangkan dari Anggaran yang hampir 2,6 Triliun yang semestinya untuk mereka di potong minimal 20% lalu berapa ratus Milyar uang Rakyat yang bocor di ambil pada bukan penerima hak nya. Jangan main-main ini uang rakyat.

Aceng menduga ini ada permainan dari oknum penyelenggara dengan mafia birokrasi dan ini harus di usut tuntas,
“kasian dong para pesantren yang akibat covid ini mereka hanya dijadikan alat pemanfaatan atas nama program, tentu dampaknya sangat komplek, banyak santri dan anak yatim hidupnya mengalami kesulitan di masa pandemi bukannya membantu ini malah merampok.

Aceng Nasir juga meminta kepada BPK dan KPK untuk membongkar kasus ini, apa yang terjadi di garut misalkan sebagai keluhan-keluhan dari penerima manfaat tidak mustahil terjadi pada 21 ribu lebih pesantren penerima bantuan seluruh Indonesia. Ini harus di bongkar dan di proses pelakunya di semua tingkatan agar ada efek jera dan sesuai aturan UU dan ini sebenarnya ancaman pidana cukup berat apalagi dimasa pandemi covid ini Pasal 12 huruf e Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 atas perubahan UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *